Fenomena Dollynomics
ILUSTRASI Fenomena Dollynomics.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Seseorang datang ke konser. Ia membeli tiket. Kemudian, hotel mendapatkan pelanggan. Restoran memperoleh transaksi. Transportasi bergerak. Toko menjual merchandise. Salon dan butik mendapatkan konsumen.
Konten digital diproduksi. Media memperoleh trafik. Pemerintah mendapatkan penerimaan pajak. Satu aktivitas budaya kemudian menciptakan ”rantai permintaan”. Itulah multiplier effect yang sesungguhnya.
Kasus Taylor Swift memberikan gambaran yang sangat jelas. Analisis terhadap Eras Tour memperkirakan penggemar mengeluarkan sekitar USD1.300 per orang untuk perjalanan, hotel, makanan, merchandise, dan kebutuhan lain.
BACA JUGA:Sandiaga Adopsi Swiftonomics untuk Tingkatkan Kunjungan Wisman
Bahkan, estimasi U.S. Travel Association menggunakan ilustrasi bahwa setiap USD100 pengeluaran untuk pertunjukan dapat berkaitan dengan sekitar USD300 pengeluaran tambahan untuk hotel, makanan, dan transportasi.
Di Los Angeles, enam pertunjukan Eras Tour diperkirakan menghasilkan tambahan sekitar USD320 juta terhadap ekonomi daerah dan meningkatkan sekitar 3.300 posisi pekerjaan. Di sini artis bukan sekadar konsumen ekonomi, melainkan juga dapat menjadi pemicu konsumsi ekonomi.
Reuters mencatat bahwa sebagian besar kekayaan Parton berasal dari kepemilikannya di Dollywood, sementara keputusan untuk mempertahankan hak atas lagu-lagunya memberikan sumber royalti yang berkelanjutan.
Dengan kata lain, Parton menciptakan apa yang dapat disebut creative economic ecosystem.
Musiknya menarik perhatian. Perhatiannya menciptakan penggemar. Penggemarnya menciptakan permintaan. Permintaan menciptakan bisnis. Bisnis menciptakan pekerjaan. Pekerjaan menciptakan pendapatan. Pendapatan kemudian kembali menjadi konsumsi. Itulah lingkaran ekonomi kreatif.
Beyonce menunjukkan mekanisme serupa. Studi QuestionPro memperkirakan, Renaissance World Tour berpotensi menghasilkan sekitar USD4,5 miliar dalam dampak ekonomi, dengan pengeluaran rata-rata penonton USD1.870 per konser.
K-pop memberikan contoh lain. Pemerintah Korea Selatan menemukan bahwa wisatawan internasional yang datang untuk konser BTS tinggal rata-rata 8,7 hari dan membelanjakan sekitar KRW3,53 juta per orang. Artinya, konser berfungsi sebagai entry point untuk ekspor budaya dan pariwisata.
Pelajaran untuk Indonesia
Bagi Indonesia, fenomena dollynomics seharusnya dibaca lebih serius daripada sekadar urusan industri hiburan. Indonesia terlalu lama mengukur daya saing ekonomi kreatif dari pertanyaan: berapa banyak produk yang bisa dijual?
Pertanyaan yang lebih substantif adalah berapa banyak letupan aktivitas ekonomi yang dapat dipicu oleh sebuah karya kreatif?
Seorang penyanyi Indonesia dengan basis penggemar yang kuat dapat menjadi aset pariwisata. Sebuah konser dapat dikembangkan menjadi festival.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: