Paradoks Muktamar NU: Ketika Jam’iyah Mendisiplinkan Jamaah

Paradoks Muktamar NU: Ketika Jam’iyah Mendisiplinkan Jamaah

ILUSTRASI Paradoks Muktamar NU: Ketika Jam’iyah Mendisiplinkan Jamaah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

ARENA muktamar Nahdlatul Ulama selalu berhasil menyedot perhatian publik nasional secara masif. Perhelatan itu bukan sekadar panggung berkumpulnya jutaan warga nahdliyin dari seluruh pelosok negeri, melainkan juga perhelatan di mana akumulasi syahwat politik, patronase kekuasaan, dan negosiasi ekonomi-politik berkelindan secara vulgar. 

Artikel opini di Harian Disway, Sabtu, 29 Agustus 2026, bertajuk Jam’iyah Tanpa Jamaah: Membaca Metamorfosis NU di Jombang, tulisan Listiyono Santoso,  menunjukkan adanya keterbelahan struktural yang kian lebar antara elastisitas kultur Jamaah di akar rumput dan manuver elitis jam’iyah di pucuk pimpinan organisasi.

Jika keterbelahan struktural itu ditelisik melalui perspektif politik tubuh Michel Foucault, dinamika internal NU tidak lagi sekadar urusan sosiologis atau manajerial organisasi. 

Dalam perspektif politik tubuh, perebutan pengaruh di dalam struktur PBNU mewujud sebagai medan operasi biopolitik, sebuah arena di mana raga, daya, dan otonomi fisik warga nahdliyin mengalami penaklukan, pengendapan, dan pendisiplinan secara sistematis demi melayani kepentingan pragmatis kekuasaan.

BACA JUGA:Jam’iyah Tanpa Jamaah: Membaca Metamorfosis NU di Jombang

BACA JUGA:Muktamar Jombang: NU Tidak Hanya Milik Nahdliyin, tetapi Juga Perekat Seluruh Anak Bangsa

Ritual Amaliah vs Biopolitik Kekuasaan

Secara kualitatif maupun kuantitatif, kekuatan sejati Nahdlatul Ulama terletak pada benteng amaliah tubuh-tubuh yang tersebar di ribuan pesantren, majelis taklim, dan pelosok desa. 

Kehadiran warga nahdliyin tersebut mewujud secara material dan riil melalui gerakan fisik ritual kolosal yang menggetarkan, seperti melangkah bersilaturahmi tanpa batas, tahlilan, manakiban, hingga kekhusyukan sujud dalam salat Subuh yang berlangsung berjam-jam. 

Itu adalah tubuh-tubuh yang berdaya secara spiritual, memiliki resiliensi kultural luar biasa, dan merawat ikatan sosial dari bawah.

Namun, begitu masuk ke ruang-ruang muktamar dan lorong-lorong negosiasi elite, terjadi transformasi politik tubuh yang teramat radikal. Tubuh amaliah tersebut ditarik keluar dari hakikat spiritual, lalu dikomodifikasi dan dikooptasi menjadi sekadar tubuh pemilih. 

BACA JUGA:Mengembalikan Muktamar Ke-35 NU kepada Maslahat, Bukan Kontestasi

BACA JUGA:Tambakberas dan Muktamar NU: Titik Balik Kebangkitan Organisasi di Abad Kedua

Dalam konteks biopolitik Foucault, lembaga elite jam’iyah bertindak layaknya aparatus pendisiplinan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: