Pembantu Bunuh Majikan Perempuan di Batam: Brutal Wanita Muda

Pembantu Bunuh Majikan Perempuan di Batam: Brutal Wanita Muda

ILUSTRASI Pembantu Bunuh Majikan Perempuan di Batam: Brutal Wanita Muda.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Ada konsep tentang disinhibition, yakni berkurangnya rem psikologis yang biasanya mencegah seseorang melakukan tindakan ekstrem. Dalam keadaan emosi yang sangat tinggi, perhatian seseorang dapat menyempit pada objek kemarahan: ”orang yang membuat saya sakit”. 

Sementara itu, konsekuensi hukum dan moral sebagai akibatnya kemudian menjadi kurang diperhatikan pelaku.

Gavin dan Porter menolak pandangan bahwa agresi perempuan harus selalu dicari penjelasannya sebagai ”perempuan yang sebenarnya korban”. Perempuan mempunyai agensi –kemampuan untuk bertindak dan mengambil keputusan– termasuk melakukan kekerasan. 

Penelitian tentang perempuan pelaku pembunuhan juga menunjukkan bahwa latar belakang psikososial mereka kompleks dan tidak dapat direduksi menjadi satu penyebab.

Intinya, brutalitas perempuan bukan sesuatu yang secara psikologis mustahil atau bertentangan dengan sifat perempuan. Perempuan memiliki kapasitas agresi seperti manusia lainnya. Yang berbeda adalah frekuensi, bentuk, dan konteksnya. 

Dalam kasus tertentu, akumulasi konflik interpersonal, penghinaan yang dirasakan, kemarahan, faktor kepribadian, kemampuan mengendalikan impuls, serta situasi saat kejadian dapat bertemu dan menghasilkan ledakan kekerasan yang sangat ekstrem.

Gavin dan Porter melihat perempuan pelaku kekerasan sebagai manusia yang memiliki kapasitas agresi, bukan sebagai ”makhluk yang secara alamiah tidak mungkin brutal”.

Jika teori Gavin dan Porter dijadikan pisau analisis kasus pembunuhan di Batam, perlakuan majikan yang berulang-ulang menyebutnya ”pemalas” dan ”bodoh” menjadi stresor interpersonal buat pelaku. 

Namun, pastinya, penghinaan atau teguran tersebut tidak dengan sendirinya menyebabkan pembunuhan. Sebagian besar orang yang dimarahi atau dihina tidak kemudian melakukan kekerasan. Apalagi membunuh. 

Jadi, sangat mungkin ada faktor individual lain pada diri pelaku yang belum diketahui atau belum diungkap polisi.

Di kasus itu, pelaku tidak hanya melakukan satu tindakan kekerasan. Dia meninju, menghantam menggunakan benda keras, kemudian melakukan penusukan berkali-kali, dan masih menendang kepala korban setelah korban tidak bergerak di lantai.

Rangkaian itu menunjukkan eskalasi agresi dan kemarahan yang sangat tinggi. Meskipun dari fakta singkat itu saja kita dilarang menyimpulkan diagnosis psikologis tertentu terhadapnyi. Sebab, kondisi mental pelaku belum dievaluasi.

Bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu yang punya pembantu, sebaiknya jangan terlalu khawatir atas perilaku pembantu yang bisa berpotensi brutal. 

Jika pembantu Anda malas atau bodoh atau keduanya, bisa saja dia dikembalikan ke yayasan penyalurnya jika itu didapatkan dari perusahaan jasa penyalur. Jika tidak direkrut dari penyalur, tetapi dari cara lain, ya… dipecat saja. Selesai. Daripada bikin perkara.

Ini tak berarti majikan di Batam itu tidak berpikir sederhana seperti di atas. Tidak begitu. Mungkin, korban berusaha memberikan semangat kerja buat pelaku. Namun, caranya ditanggapi berbeda oleh pelaku. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: