Penyelidikan Mayat Dalam Kardus Paket di Bandung: Untung Ada CCTV
ILUSTRASI Penyelidikan Mayat Dalam Kardus Paket di Bandung: Untung Ada CCTV.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Proses tersebut membutuhkan kerja sama antara penyidik, ahli patologi forensik, odontologi forensik, antropologi forensik, analis DNA, dan ahli identifikasi manusia.
Sidik jari dapat menjadi bukti identitas yang sangat kuat apabila masih tersedia dan dapat dibandingkan dengan catatan sebelumnya.
Gigi juga sangat penting karena struktur gigi relatif tahan terhadap pembusukan dan dapat dibandingkan dengan catatan perawatan gigi.
Bila kedua metode tersebut tidak memungkinkan, DNA dapat menjadi jalan keluar penting. DNA dari mayat dapat dibandingkan dengan DNA keluarga biologis atau dengan sampel pembanding lain.
Buku itu menguraikan, identifikasi tidak semata-mata bergantung pada satu teknologi. Antropologi forensik dapat membantu menentukan profil biologis. Misalnya, perkiraan jenis kelamin, usia, tinggi badan, dan karakteristik biologis lainnya. Dengan demikian, lingkup pencarian orang hilang dapat dipersempit.
Pemeriksaan radiologi, kondisi patologis tulang, tanda operasi, dan karakteristik anatomi tertentu juga dapat memberikan petunjuk.
Penyelidik wajib mengetahui cara tubuh itu ditemukan, lokasi pembuangan, kondisi pakaian, barang yang melekat pada tubuh, luka, serta keadaan lingkungan dapat menjadi bagian dari puzzle investigasi.
Setelah identitas dapat diketahui, pertanyaan penyidik berubah secara dramatis: Di mana korban terakhir terlihat? Dengan siapa ia berhubungan? Siapa yang mempunyai motif? Kapan ia menghilang?
Dengan demikian, identifikasi korban bukan sekadar pekerjaan administratif sebelum penyelidikan pembunuhan dimulai. Identifikasi justru dapat menjadi pintu masuk utama menuju pelaku.
Mayat tanpa nama tidak berarti tanpa informasi. Tubuh itu sendiri menyimpan informasi biologis; tempat ditemukannya menyimpan informasi investigatif. Orang-orang yang kehilangan anggota keluarga menyimpan informasi antemortem. Ketiganya harus dipertemukan.
Pendekatan modern menekankan bahwa proses pencarian orang hilang dan identifikasi mayat tidak boleh dipisahkan secara kaku dari penyelidikan. The International Committee of the Red Cross (ICRC) menyebutnya sebagai proses yang terintegrasi antara prinsip investigatif, kriminalistik, dan ilmu forensik.
Pada penemuan mayat perempuan di Bandung, polisi sebenarnya sudah sangat dekat dengan pengungkapan pembunuhan. Polisi berpegang pada dua pria yang kini dalam pemeriksaan polisi. Dua pria itu bisa pelaku pembunuhan, bisa juga bukan.
Sebenarnya, polisi di Bandung diuntungkan oleh keterangan saksi dan hasil rekaman CCTV. Mereka sudah meloncat dari penemuan mayat tanpa identitas menuju ke terduga pelaku pembuang mayat. Satu langkah lagi, kasus tersebut terungkap. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: