Filsafat Nietzsche, Mengenal Eternal Recurrence tentang Menerima Kehidupan

Filsafat Nietzsche, Mengenal Eternal Recurrence tentang Menerima Kehidupan

Potret Friedrich Nietzsche oleh Gustav Schultze, 1882.--Wikimedia Commons

Gagasan tersebut lebih sering dipahami sebagai percobaan pemikiran yang harus dihadapi manusia.

Dalam catatan yang kemudian diterbitkan dalam buku The Will to Power, Nietzsche menggambarkan kehidupan seperti jam pasir. Terus dibalik dan kembali berjalan.

"Hidupmu, seperti sebuah jam pasir, akan selalu dibalik dan terus berjalan kembali hingga habis."

BACA JUGA:Gus Kikin Gandeng Akademisi Yogyakarta, Transformasikan Pemikiran Mbah Hasyim Jadi Kajian Ilmiah Kontekstual

BACA JUGA:Ketika Manusia Menjadi Robot: Meneruskan Pemikiran Suko Widodo tentang Generasi Kontrang-kantring

"Setelah waktu yang panjang berlalu, semua keadaan yang membentuk dirimu akan kembali dalam roda proses kosmis. Kamu akan kembali menemukan setiap rasa sakit, kesenangan, teman, musuh, harapan, dan kesalahan."

Menurut Nietzsche, gagasan tersebut tak semata terkait alam semesta. Eternal recurrence juga dapat menjadi cara untuk menguji: apakah manusia benar-benar mampu menerima kehidupan yang dijalaninya.

Di situlah muncul gagasan penting lain dalam pemikiran Nietzsche. Yaitu amor fati. Istilah Latin tersebut berarti mencintai takdir.

Eternal recurrence mengajak manusia melihat seluruh kehidupannya sebagai satu kesatuan. Kebahagiaan dan penderitaan tidak dilihat sebagai bagian yang benar-benar terpisah.

BACA JUGA:Dari Neoliberalisme ke State Capture: Lanjutan Pemikiran Bagong Suyanto, Catatan dari KSTI 2026

BACA JUGA:Haul Bung Karno, DPC PDIP Kabupaten Gresik Tekankan Pentingnya Warisan Pemikiran Sang Proklamator

Manusia dapat melihat kehidupannya sebagai perjalanan yang berisi masa-masa baik dan buruk. Pertanyaannya, apakah seseorang tetap dapat mengatakan ya terhadap seluruh perjalanan tersebut.

Dalam The Will to Power, Nietzsche mengajukan pertanyaan tentang apakah manusia benar-benar puas terhadap sesuatu dalam kehidupannya. 

Menurutnya, ketika seseorang mampu mengatakan ya kepada satu momen kebahagiaan, seluruh proses yang membawa manusia menuju momen itu juga ikut diterima.

"Pertanyaan pertama bukanlah apakah kita puas dengan diri sendiri. Tetapi apakah kita puas dengan sesuatu."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: thecollector.com