Filsafat Nietzsche, Mengenal Eternal Recurrence tentang Menerima Kehidupan
Potret Friedrich Nietzsche oleh Gustav Schultze, 1882.--Wikimedia Commons
BACA JUGA:Senja Kala Humaniora Gen Z: Menagih Etika Pancasila, Melanjutkan Pemikiran Listiyono Santoso
BACA JUGA:Sun Tzu dan The Art of War, Kisah Ahli Seni Perang yang Pemikirannya Mendunia
"Jika kita mampu mengatakan ya kepada satu momen saja, kita bukan hanya menerima diri kita sendiri. Tetapi juga menerima seluruh keberadaan."
Pemikiran tersebut menunjukkan satu hal. Bahwa momen kebahagiaan mungkin tidak dapat dipisahkan dari berbagai pengalaman yang terjadi sebelumnya.
Penderitaan, kesalahan, kegagalan, dan kehilangan. Menjadi bagian dari perjalanan. Pada akhirnya membawa seseorang pada kehidupannya saat ini.
Namun, gagasan tersebut tentu tidak mudah diterima semua orang. Seseorang dapat mempertanyakan satu hal:

Potret Friedrich Nietzsche oleh Curt Stoeving, c. 1894.-Bildnis Friedrich Nietzsche-The Collector
BACA JUGA:7 Pemikiran Denny JA tentang Agama dan Spiritualitas di Era AI Layak Jadi Kurikulum PT
Apakah semua penderitaan dalam hidup benar-benar dapat dianggap sebagai harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kebahagiaan.
Bagi Nietzsche, eternal recurrence menjadi cara untuk menguji hubungan manusia dengan kehidupannya sendiri.
Gagasan tersebut membantu seseorang bertanya apakah ia mampu menjalani kembali seluruh kehidupannya jika diberi kesempatan.
Jika seseorang dapat menerima kehidupan dan menjalaninya kembali, termasuk seluruh kesedihan sebagai bagian dari kebahagiaan, maka orang tersebut telah menerima keberadaannya.
BACA JUGA:Filosofi Teras Jadi Revolusi Pemikiran Anak Muda Melalui Gagasan Stoik
BACA JUGA:Prabowo Kenang Rizal Ramli: Banyak Pemikiran Beliau yang Baik
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: thecollector.com