Filsafat Nietzsche, Mengenal Eternal Recurrence tentang Menerima Kehidupan
Potret Friedrich Nietzsche oleh Gustav Schultze, 1882.--Wikimedia Commons
Nietzsche menyebut penerimaan itu sebagai bentuk afirmasi kehidupan. Dalam bahasa Jerman, gagasan tersebut dikenal sebagai Bejahung atau mengatakan "ya".
Manusia tidak lagi melihat hidup sebagai kumpulan peristiwa yang terpisah. Tetapi sebagai sebuah proses yang dapat diterima secara utuh.
Pemikiran itu juga berkaitan dengan kritik Nietzsche terhadap agama Kristen. Ia memandang agama Kristen menolak kehidupan nyata. Karena terlalu berfokus pada kehidupan setelah kematian.
Bagi Nietzsche, yang terpenting adalah saat ketika seseorang dapat menerima apa yang telah membawanya ke titik kehidupan saat ini.
BACA JUGA:Mendalami Filosofi Hapkido, Disiplinkan Mental sebelum Lepaskan Jurus
BACA JUGA:Mengenal Jia Baoyu, Tokoh Utama A Dream of Red Mansions yang Sarat Makna Filosofis
Di situlah amor fati atau cinta pada takdir menjadi bagian penting dalam pemikirannya. Kehidupan Nietzsche pun tidak lepas dari penderitaan.
Ia kehilangan ayahnya pada usia muda, mengalami masalah kesehatan, dan pemikirannya tidak sepenuhnya mendapat pengakuan ketika masih hidup.
Karena itu, eternal recurrence juga dapat dikaitkan dengan pertanyaan Nietzsche terhadap kehidupannya sendiri.

Nietzsche di ranjang kematiannya, difoto oleh fotografer tak dikenal, sekitar tahun 1899.--The Collector
Ia seolah terus menanyakan apakah seluruh kehidupan yang dijalani layak untuk diterima dan diulang kembali.
BACA JUGA:Deretan Interior Tangga Terbaik Dunia 2025, Simbol Artistik dan Narasi Filosofis
Bagi Nietzsche, eternal recurrence dapat menjadi "beban terbesar". Tetapi juga memiliki kekuatan untuk membebaskan manusia dari masa lalu.
Gagasan tersebut mengajak manusia menerima semua hal yang telah membawanya menuju saat ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: thecollector.com