Filsafat Nietzsche, Mengenal Eternal Recurrence tentang Menerima Kehidupan

Filsafat Nietzsche, Mengenal Eternal Recurrence tentang Menerima Kehidupan

Potret Friedrich Nietzsche oleh Gustav Schultze, 1882.--Wikimedia Commons

Dengan mencintai takdir melalui amor fati, manusia tidak harus menghapus masa lalu atau hanya memilih kenangan yang menyenangkan. 

Sebaliknya, manusia diajak menerima kehidupan sebagai satu gambaran utuh. Yang terdiri atas kebahagiaan dan penderitaan.

BACA JUGA:Ragam Jenis, Tata Cara, dan Filosofi Dupa dalam Tradisi Tionghoa

BACA JUGA:5 Motif Batik Indonesia dan Filosofi yang Terkandung di Setiap Polanya

Maka, eternal recurrence bukan hanya pertanyaan tentang apakah kehidupan benar-benar berulang tanpa akhir. 

Gagasan tersebut menjadi pertanyaan yang lebih sederhana, tetapi berat: jika harus menjalani kehidupan yang sama sekali lagi, apakah kita sanggup mengatakan "ya." (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: thecollector.com