Filsafat Nietzsche, Mengenal Eternal Recurrence tentang Menerima Kehidupan

Filsafat Nietzsche, Mengenal Eternal Recurrence tentang Menerima Kehidupan

Potret Friedrich Nietzsche oleh Gustav Schultze, 1882.--Wikimedia Commons

Kehidupan yang berulang. Gagasan Nietzsche tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. 

Sebagai filolog dan pemikir yang mempelajari filsuf Yunani kuno, Nietzsche mengenal pemikiran Heraclitus. Tentang kemungkinan segala sesuatu berulang secara siklus.

Nietzsche juga mengenal kisah Sisyphus dalam mitologi Yunani. Sisyphus dihukum untuk mendorong batu besar ke puncak bukit.

BACA JUGA:Sajikan Pemikiran 12 Tokoh Filsafat Dunia lewat Reality Show, Henry Manampiring: Pilih Filsuf Favoritmu

BACA JUGA:Jumlah Jari Naga dalam Kelenteng, Maknai Filsafat Konfusius

Tetapi batu tersebut selalu jatuh kembali. Sehingga ia harus mengulanginya tanpa akhir. Pada masa Nietzsche, gagasan tentang waktu yang berulang mulai kurang populer di dunia Barat. 

Salah satu penyebabnya adalah pengaruh agama Kristen. Agama tersebut memandang waktu sebagai perjalanan lurus. Dari awal menuju akhir.

Namun, Nietzsche juga mengenal pandangan tentang waktu yang bersifat siklus. Yakni melalui pemikiran Arthur Schopenhauer. Ia dikenal mempelajari agama-agama Timur dan pemikiran esoteris.

Pandangan tentang waktu yang berputar dan kehidupan yang berulang. Itu lebih dikenal dalam sejumlah tradisi pemikiran Timur. Dalam konteks tersebut, gagasan eternal recurrence tidak sepenuhnya asing.

BACA JUGA:Hari Filsafat Sedunia 20 November 2025, Memahami Pentingnya Filsafat bagi Anak Muda

BACA JUGA:Reza Rahadian Buat Karya Seni Eudaimonia di ARTJOG 2025, Terinspirasi dari Filsafat Yunani Kuno

Meski bukan gagasan yang sepenuhnya baru, eternal recurrence memiliki peran penting dalam filsafat Nietzsche. Ia kembali membahas gagasan tersebut dalam Thus Spoke Zarathustra.

"Kelak kamu akan berkata, sekarang aku mati dan lenyap, dan dalam sekejap aku menjadi bukan apa-apa. Jiwa sama fana seperti tubuh."

"Namun, jalinan sebab yang mengikatku akan kembali dan menciptakanku lagi. Aku sendiri menjadi bagian dari sebab pengulangan abadi. Aku akan datang kembali bersama matahari dan bumi ini."

Pertanyaan berikutnya: apakah Nietzsche benar-benar menganggap kehidupan manusia berulang tanpa akhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: thecollector.com