Dari Vladivostok, Gotong Royong Mengikat Indonesia dan Rusia

Dari Vladivostok, Gotong Royong Mengikat Indonesia dan Rusia

ILUSTRASI Dari Vladivostok, Gotong Royong Mengikat Indonesia dan Rusia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

ARTIKEL ini adalah lanjutan dari dua tulisan saya sebelumnya di Harian Disway soal hubungan Indonesia dan Rusia. Kali ini saya ingin bercerita soal peristiwa yang baru saja terjadi di Vladivostok, kota pelabuhan di ujung timur Rusia yang setiap awal September selalu ramai oleh hajatan besar bernama Eastern Economic Forum (EEF). 

Forum itu digagas Presiden Putin sejak 2015, semacam ajang tahunan untuk mempercepat pembangunan kawasan timur jauh Rusia sekaligus menjaring investasi dari negara-negara Asia-Pasifik. Nah, pada penyelenggaraan ke-11 tahun ini, Presiden Prabowo Subianto diundang khusus sebagai tamu kehormatan utama. 

Itu bukan posisi yang diberikan sembarangan. Sebab, biasanya itu hanya untuk kepala negara yang dipandang paling strategis oleh tuan rumah. 

Kehormatan tersebut kian istimewa karena Presiden Prabowo berbagi panggung dengan pemimpin-pemimpin penting lain seperti Wakil PM Tiongkok Ding Xuexiang, PM Mongolia Nyam-Osoryn Uchral, dan Wapres Myanmar Nyo Saw, sekaligus bertemu langsung dengan Presiden Putin pada 3 September 2026.

Gotong Royong dan Odin v Pole ne Voin

Pidato Presiden Prabowo di forum tersebut delapan kali disambut tepuk tangan hadirin, dan momen yang paling berkesan bagi saya adalah ketika beliau mengutip pepatah Rusia ”odin v pole ne voin” yang kurang lebih bermakna tidak akan ada kemenangan bila berjuang sendirian. 

BACA JUGA:Era Baru Hubungan Indonesia-Rusia: Non-Aligned dalam Dunia Multipolar

BACA JUGA:Victory Day dan Kemerdekaan RI: Cara Membaca Persahabatan Indonesia-Rusia

Presiden Prabowo lantas memadankannya dengan falsafah gotong royong ala Indonesia. Yakni, beban seberat apa pun akan menjadi ringan bila dipikul bersama-sama.

Menariknya, gotong royong itu sebenarnya bukan konsep yang baru lahir bersamaan dengan republik ini. Ia adalah nilai yang sudah hidup ribuan tahun di taman sari rakyat Nusantara, jauh sebelum Indonesia merdeka, mengakar dalam tradisi tolong-menolong antartetangga, antardesa, sampai antarsuku bangsa. 

Bung Karno sendiri pernah menegaskan hal itu dalam pidato bersejarahnya pada 1 Juni 1945 di hadapan sidang BPUPKI, saat ia memeras lima sila menjadi satu perkataan Indonesia yang tulen, yakni gotong royong. 

Soekarno menyebut ”gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat Bersama”, sebuah amal yang dikerjakan semua orang untuk kepentingan bersama, dan bagi ia, itulah denyut nadi kehidupan bangsa Indonesia yang paling asli.

BACA JUGA:Analisis dan Harapan Konstuktif dari Kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia

BACA JUGA:Perang Rusia-Ukraina, Jokowi Melerai

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: