Ketika Pernyataan ’Psikolog Mahal, Mending…” Diambil Mentah-Mentah
ILUSTRASI Ketika Pernyataan ’Psikolog Mahal, Mending…” Diambil Mentah-Mentah.-AI/Gemini-
MEDIA SOSIAL bukan hanya media untuk mencari hiburan, tetapi juga merupakan sarana untuk bertukar pendapat. Salah satunya ketika ada pengguna yang mengeluarkan pernyataan pribadi mengenai bagaimana dirinya memilih untuk melakukan hal lain yang ia rasa dapat melepas emosi negatifnya daripada berkonsultasi ke psikolog.
Bila kita ulik lebih dalam, kita akan sadar bahwa pernyataan tersebut akan memiliki konsekuensi jangka panjang yang tanpa disadari akan membuat kondisi kian buruk.
Sebagai generasi muda yang lebih rawan terpapar konten media sosial, kita perlu untuk mulai menerapkan yang dinamakan dengan ”mindfulness” yang berarti, kita perlu melatih kesadaran dan fokus pada lingkungan sekitar. Dengan menerapkan hal tersebut, kita tidak akan menelan mentah-mentah opini yang beredar di media sosial.
Dengan demikian, akan lebih mudah untuk mengenali diri sendiri dan tidak mudah terbawa arus alias FOMO (fear of missing out), yaitu ketika kita merasa terdorong untuk mengikuti apa yang dilakukan banyak orang tanpa menyadari mengapa kita melakukannya.
BACA JUGA:Psikolog Umum Jangan Dipecah
BACA JUGA:Psikologi Masa Depan dari James W. Pennebaker
Lantas, apa yang terjadi bila seseorang dengan mudah setuju dengan pernyataan tersebut? Misalnya, ada seorang remaja yang sedang merasa tertekan dengan tuntutan akademik di sekolahnya.
Ia merasa tertinggal jauh dari teman-temannya dan diselimuti ketakutan akan amarah yang datang dari orang tuanya ketika gagal. Ketika tekanan yang dirasa makin besar, ia memutuskan untuk melakukan tindakan menyakiti diri sendiri (self-harm).
Waktu berlalu dan ia ingin mengonsultasikan kondisinya kepada psikolog karena bagian dalam dirinya merasa ini kurang benar. Namun, ketika ia melihat di media sosialnya sebuah pernyataan ”psikolog mahal, mending konser”, ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke psikolog dan memutuskan untuk melakukan hal lain demi melampiaskan emosinya.
Memang dilihat sekilas tidak terlihat berbahaya, tetapi perlu diingat bahwa pelepasan tersebut hanya memiliki dampak jangka pendek. Sedangkan ketika ia tidak menemukan kesenangan lagi dalam konser, ia akan terus mencari cara lain yang belum tentu baik untuk kelangsungan hidupnya. Contohnya, merokok dan minum miras.
BACA JUGA:Psikolog Kompeten sebagai Nakes: Menunggu Sinergi Kemenkes Bersama AP2TPI dan Himpsi
BACA JUGA:Psikologi Pocong Begal: Saat Hoaks Medsos Menipu Otak Manusia
Ketika ia merasa kehabisan cara untuk melampiaskan emosinya, hal itu dapat berujung pada tindakan ekstrem lainnya. Sekalipun ada tren yang menyebutkan pelampiasan yang baik seperti ”psikolog mahal, mending muncak” tetap saja efek ketenangan yang diberikan tidak bertahan lama.
Memang, argumen ”in this economy” akan sangat mendukung diwajarkannya tren itu, tetapi ketika yang dicari adalah kesehatan mental dengan dampak jangka panjang, pergi ke bantuan profesional seperti psikolog merupakan opsi yang tepat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: