Serangan Senyap Autoimun: Tak Cukup Satu Dua Kali Periksa (2)

Serangan Senyap Autoimun: Tak Cukup Satu Dua Kali Periksa (2)

GAYA HIDUP modern yang akrab dengan makanan dan minuman instan bisa memicu perburukan autoimun. Ilustrasi menunjukkan dua gadis muda nongkrong sambil menikmati minuman instan.-Boy Slamet-Harian Disway

Jika Rani harus berdamai dengan satu autoimun, Catherine Clara Gunawan tidak demikian. Gadis 21 tahun itu mengidap empat autoimun. Dan, diagnosisnya pun tidak langsung dia ketahui pada waktu yang sama. 

Kesehatan Clara mulai terganggu sejak pertengahan 2024. Dia mudah lelah, mengantuk, dan sering ketiduran di dalam kelas. Kaki juga terasa sakit saat duduk bersila. Bersamaan dengan itu, alergi dingin yang dideritanya saat kecil, tiba-tiba kambuh. Ditambah lagi, dia jadi pikun. 

BACA JUGA:10 Makanan Terbaik untuk Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh Anda (1)

BACA JUGA:10 Makanan Terbaik untuk Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh Anda (2)

Pada awal 2025, atas anjuran dari dokter, Clara menjalani tes darah lengkap. Hasil tes darah tersebut menunjukkan bahwa ia mengalami anemia dan penurunan kadar trombosit.

"Nah, awalnya kami kira hanya kurang darah biasa gitu. Terapinya ya terapi anemia. Mengonsumsi asam folat, vitamin-vitamin, dan Sangobion," katanya pada 27 Agustus 2026. 


ULTRASONOGRAFI membantu pemeriksaan autoimun. Biasanya dikombinasikan dengan tes darah dan pemeriksaan laboratorium.--Dokumentasi Humas RS Dr. Soetomo

Karena badannya sering sakit saat bangun pagi, urusan kuliah pun keteteran. Clara pun lalu berkonsultasi lebih intensif dengan dokter. Pada Agustus 2025, dia divonis autoimun. Diagnosis awalnya adalah Systemic Lupus Erythematosus (SLE), Raynaud Phenomenon, dan cEDS (Classical Ehlers-Danlos Syndrome). 

Selain itu, dia juga terindikasi Sjogren. "Ini karena saya sering merasakan sangat kering pada mata dan tenggorokan," ujar Clara. 

BACA JUGA:Studi: Vaksinasi Covid-19 dan Breakthrough Infection Timbulkan “Kekebalan Super

BACA JUGA:Manfaat Puasa Ramadan bagi Sistem Kekebalan Tubuh

Sebelumnya Clara memang memiliki genetik bawaan cEDS. Itu adalah kelainan jaringan ikat genetik langka yang memengaruhi kulit dan sendi. Ciri-cirinya kulit bisa melar, kemudian jari bisa menekuk 180 derajat. Hal ini berpotensi terjadi dislokasi pada jaringan ikat syaraf. 

Bila waktu ditarik mundur, Clara selalu sibuk sejak SMA. Mulai dari melakoni hobi hingga pekerjaan sambilan. Saat masuk kuliah pun dia selalu mengambil full SKS, sambil tetap bekerja. Kini, dia mengurangi kegiatannya itu. Pekerjaan sampingan pun dikerjakannya dari rumah. 

Autoimun sering dianggap sepele. Apalagi, tidak ada gejala yang pasti. Penyakitnya tidak terlihat dari luar tapi memiliki efek yang kronis. Hal itulah yang seharusnya menjadi perhatian. 

Apa yang terjadi pada Rani dan Clara adalah contoh bahwa autoimun tidak memandang usia, dan bisa datang kapan saja. Bahkan anak-anak. Dokter Spesialis Anak Subspesialis Konsultan Alergi dan Imunologi Zahra Hikmah mengatakan bahwa autoimun memang terus meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: