Menjembatani Kampus dan Industri: Dari Link and Match Menuju Co-Creation

Menjembatani Kampus dan Industri: Dari Link and Match Menuju Co-Creation

ILUSTRASI Menjembatani Kampus dan Industri: Dari Link and Match Menuju Co-Creation.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Rekomendasi: Lima Langkah Menuju Co-Creation

Sejumlah agenda konkret perlu segera dijalankan secara lintas sektor.

Pertama, penguatan data dan informasi pasar kerja yang dapat diakses secara real time oleh lembaga pendidikan. Selama ini kurikulum dan kapasitas pelatihan baru disesuaikan setelah evaluasi berkala setiap beberapa tahun, padahal kebutuhan kompetensi industri berubah jauh lebih cepat. 

Dengan sistem informasi pasar kerja yang terintegrasi, mencakup proyeksi kebutuhan tenaga kerja berdasarkan sektor dan wilayah, akan memungkinkan lembaga pendidikan menyesuaikan arah pembelajaran secara lebih responsif.

Kedua, perluasan skema magang dan pembelajaran berbasis proyek nyata yang melibatkan industri sejak tahap perancangan kurikulum, bukan hanya pada penempatan di akhir masa studi. 

Dengan demikian, peserta didik memperoleh pengalaman kerja yang autentik sebelum lulus, sekaligus industri mendapatkan calon tenaga kerja yang telah terbiasa dengan standar kerja mereka.

Ketiga, penguatan kelembagaan yang memberikan insentif nyata bagi industri untuk berinvestasi dalam pendidikan vokasi. Bentuknya dapat berupa penyediaan fasilitas praktik, penempatan instruktur dari kalangan praktisi, maupun keterlibatan dalam uji kompetensi dan sertifikasi. 

Tanpa insentif yang jelas, ajakan kepada industri untuk menjadi co-designer pendidikan hanya akan berhenti sebagai imbauan normatif.

Keempat, pemilahan data pengangguran terdidik yang lebih tajam, misalnya, berdasarkan program studi, wilayah, kelompok usia, lama masa mencari kerja, hingga sektor tujuan. Kesenjangan supply dan demand kompetensi memiliki karakter yang berbeda di setiap wilayah dan sektor. 

Karena itu, setiap intervensi kebijakan perlu bertumpu pada data yang cukup terperinci, tidak berhenti pada generalisasi di tingkat nasional semata.

Kelima, integrasi kurikulum keterampilan masa depan, seperti literasi data dan kecerdasan buatan, berpikir analitis, adaptabilitas, dan kepemimpinan, ke dalam jenjang pendidikan vokasi maupun akademik sejak dini. 

Tujuannya, lulusan tidak hanya siap menghadapi pekerjaan yang ada hari ini, tetapi juga tangguh menghadapi jenis pekerjaan yang akan terus berubah dalam beberapa tahun mendatang. Termasuk di dalamnya adalah mendorong guru dan dosen untuk mengikuti program magang di industri agar memahami poini-poin dunia usaha secara langsung.

Pembangunan sumber daya manusia yang berdaya saing adalah salah satu fondasi utama menuju Indonesia emas. Fondasi itu tidak akan berdiri kokoh jika lembaga pendidikan dan dunia industri masih berjalan pada relnya masing-masing, saling menunggu dan saling menyalahkan atas kesenjangan kompetensi yang terjadi.

Sebaliknya, fondasi itu akan makin kuat ketika keduanya duduk bersama sebagai mitra sejajar, co-designer dan co-producer, dalam merancang masa depan tenaga kerja Indonesia.

Kemenko PMK, bersama Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Dikdasmen, Kementerian Diktisaintek, dan lembaga terkait lainnya, sebagaimana amanah Perpres 68 Tahun 2022, terus mengawal agenda co-creation itu agar menjadi kebijakan dan praktik yang dijalankan bersama oleh kampus, lembaga pelatihan vokasi, dan dunia usaha di seluruh Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: