Beyond Ijazah
PENULIS memberikan sambutan di depan wisudawan dan civitas academica UGM.-Arif Afandi untuk Harian Disway -
MERIAH SEKALI di media sosial. Banyak orang tua yang pamer foto anaknya sedang ikut masa pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru UGM. Acara tahunan di Lapangan Pancasila Kampus Bulaksumur, Yogyakarta.
Mahasiswa sekarang memang beda. Orang tuanya ikut sibuk di awal perkuliahan. Mereka mengawal, mengantarkan, sampai ikut repot mencarikan tempat tinggal. Beda dengan mahasiswa dulu. Lebih mandiri.
Itu tidak salah. Sebab, tampaknya juga menjadi kesempatan para orang tua ikut piknik ke Jogja. Sambil bisa pamer kesenangan bahwa anaknya bisa masuk salah satu universitas top di Indonesia. Lolos di sini pasti anak pinter.
Ada lebih dari 11 ribu mahasiswa baru yang diterima Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun ini. Sepuluh persen saja mereka dikawal orang tuanya, sudah seribu lebih orang tua berkumpul. Pasti meriah sekali. Menunggui anaknya mengikuti rangkaian acara sambil ngerumpi.
BACA JUGA:Saat Ijazah Kehilangan Takhta: Portofolio Lebih Nyaring daripada Transkrip Nilai
BACA JUGA:Kini Ijazah Tak Lagi Cukup
Saya pun sangat bangga punya anak di sini. Sampai sekarang suka pamer. ”Saya ini loyalis UGM. Lima dari enam anggota keluarga inti alumni UGM. Saya, istri, dan tiga anak saya,” kata saya kepada Rektor UGM Prof Ova Emlia beberapa waktu lalu.
Ya. Saya baru ketemu Bu Rektor saat wisuda pascasarjana UGM bulan lalu. Di Gedung Graha Sabha Pramana. Saya bertugas mewakili Pengurus Pusat Kagama untuk menyematkan pin ke wisudawan dan memberikan sambutan.
Saat itu saya menyampaikan perbedaan organisasi alumni UGM dan perguruan tinggi lain. Apa bedanya? UGM menamakan organisasi alumninya dengan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama). Bukan ikatan atau persatuan.
Mengapa disebut keluarga? Sebab, ikatan bisa putus. Persatuan bisa berbeda pilihan. Namun, keluarga, sekeras apa pun perbedaan di dalamnya, tidak pernah berhenti menjadi keluarga.
BACA JUGA:Sidang Dugaan Ijazah Palsu Jokowi Berlanjut, Dokter Tifa Hadir Siapkan 37 Halaman Nota Perlawanan
BACA JUGA:Roy Suryo Ditangkap Terkait Kasus Ijazah Jokowi, Kuasa Hukum: Ada Intervensi Politik!
Di dalam keluarga, kita tidak selalu sepakat. Namun, kita selalu saling menjaga. Di dalam keluarga, tidak ada kompetisi siapa yang paling hebat. Yang ada adalah gotong royong agar semua anggotanya tumbuh bersama.
Karena filosofinya keluarga, ada dua jenis alumni UGM. Mereka adalah lulusan dan jebolan. Lulusan adalah alumni yang mengantongi ijazah. Jebolan adalah mereka yang tak menuntaskan studinya sampai akhir. Keduanya dihargai sama di UGM.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: