Beyond Ijazah

Beyond Ijazah

PENULIS memberikan sambutan di depan wisudawan dan civitas academica UGM.-Arif Afandi untuk Harian Disway -

Saya pun merasakan hal yang sama. Yang paling saya kenang bukan ruang kuliah atau nilai ujian. Justru yang menbekas percakapan panjang dengan teman, aktivitas di organisasi, menjadi wartawan kampus, bertemu orang dengan latar belakang beragam, dan jaringan persahabatan yang tetap hidup sampai hari ini.

Belakangan saya menyadari, mungkin itulah ”mata kuliah” paling berharga selama menjadi mahasiswa. Mata kuliah yang tidak pernah tercetak di transkrip akademik. Tapi, paling banyak menentukan perjalanan hidup seseorang.

Reputasi perguruan tinggi pada akhirnya dibangun oleh alumninya. Bukan hanya oleh mereka yang lulus dengan predikat terbaik. Tapi, oleh mereka yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat. Kampus akan terus bersinar bila alumninya hidup dengan integritas. Bekerja dengan kompetensi. Dan, memimpin dengan keteladanan.

Sebab itulah, Harvard, Oxford, Cambridge, Stanford, UGM, ITB, atau kampus-kampus besar lainnya tetap dihormati dari generasi ke generasi. Bukan semata karena kurikulumnya. Melainka karena masyarakat melihat kualitas manusia-manusia yang lahir dari rahim kampus tersebut.

Saya jadi teringat dengan wacana beberapa waktu terakhir: apakah Indonesia memerlukan perguruan tinggi khusus untuk mencetak pemimpin? Pertanyaan itu terdengar menarik. 

Tapi, mungkin pertanyaannya justru perlu dibalik. Benarkah kepemimpinan dapat diproduksi melalui sebuah institusi yang secara khusus diberi label pencetak pemimpin?

Sejarah menunjukkan, pemimpin lahir dari kampus-kampus yang memberikan kebebasan berpikir. Juga, menyediakan ruang berdialog, membiasakan mahasiswa berorganisasi, dan mempertemukan mereka dengan keragaman kehidupan.

Pemimpin bukan produk ruang kelas. Ia hasil ekosistem. Ia tumbuh ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan pengalaman hidup. Ketika kecerdasan intelektual bersinggungan dengan kepekaan sosial. Ketika idealisme diuji oleh kenyataan. Ketika seseorang belajar menjadi bermanfaat.

Jadi, yang perlu dibangun bukan perguruan tinggi khusus pemimpin. Melainkan, sebanyak-banyaknya perguruan tinggi yang sehat. Kampus merdeka berpikir, organisasi kemahasiswaan yang hidup, kaya interaksi sosial, dan mampu membangun budaya saling menghormati.

Ekosistem seperti itu akan melahirkan  pemimpin yang tidak hanya pintar berbicara. Tapi, juga mampu mendengar. Tak hanya cerdas mengambil keputusan. Tapi, juga bijaksana menanggung akibatnya. Tidak hanya mengejar jabatan. Tapi, juga memahami hakikat pengabdian.

Saya jadi paham kenapa banyak orang tua rela menemani anaknya yang mahasiswa baru UGM ke kampus. Mereka tak hanya berharap agar anaknya mengantongi ijazah. Tapi, mereka juga sedang menitipkan masa depan, karakter, dan cita-cita anaknya ke ekosistem yang tepercaya.

Mereka tahu, usia sebuah ijazah mungkin hanya sepanjang karier seseorang. Namun, karakter, integritas, dan keteladanan yang dibentuk selama menjadi mahasiswa akan terus hidup. Bahkan, ketika nama kita kelak hanya tinggal dikenang. 

Di sinilah ukuran sejati sebuah perguruan tinggi. Bukan berapa banyak ijazah yang dibagikan. Tapi, berapa banyak manusia yang dapat dimuliakan dan pemimpin yang bisa dilahirkan untuk melayani sesama. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: