Menjembatani Kampus dan Industri: Dari Link and Match Menuju Co-Creation
ILUSTRASI Menjembatani Kampus dan Industri: Dari Link and Match Menuju Co-Creation.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Ketiga persoalan tersebut menuntut pergeseran mindset yang mendasar: tidak cukup hanya link and match, tetapi juga harus diupayakan adanya co-creation.
Selama ini pendekatan link and match kerap menempatkan industri sebagai pihak yang relatif pasif, yakni menerima dan menilai lulusan setelah proses pendidikan selesai. Sementara itu, pendekatan co-creation mengubah posisi tersebut secara mendasar.
Industri diajak duduk bersama sejak awal sebagai perancang kompetensi, penyusun kurikulum, sekaligus penyedia pengalaman kerja nyata bagi peserta didik –bukan sekadar penerima produk akhir dari sistem pendidikan yang tidak sepenuhnya diketahui latar belakang dan proses pembentukannya.
BACA JUGA:Kanibalisme Pendidikan Tinggi: Bagaimana Kampus Raksasa Membunuh PTS Daerah Secara Legal
BACA JUGA:Pasar Menentukan Kampus?
Perubahan dunia kerja global yang berlangsung jauh lebih cepat dari yang dibayangkan menuntut kita mengubah cara pandang terhadap pasar kerja yang makin spesifik, bahkan mensyaratkan kombinasi antarkompetensi.
Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum, yang disusun berdasarkan masukan lebih dari seribu perusahaan di berbagai negara, memperkirakan hampir 40 persen keterampilan inti yang dibutuhkan pekerja akan berubah pada 2030.
Kesenjangan keterampilan bahkan dipandang sebagai hambatan terbesar bagi transformasi bisnis, dengan mayoritas perusahaan yang disurvei menyebutnya sebagai tantangan utama mereka dalam lima tahun ke depan.
Laporan yang sama memproyeksikan bahwa dari setiap 100 pekerja di dunia, sekitar 59 orang perlu mengikuti pelatihan ulang atau peningkatan keterampilan agar tetap relevan.
BACA JUGA:Kampus Berdampak Berbasis Riset: Akselerasi Menuju Kemandirian Perti
BACA JUGA:Krisis Sunyi Kampus Swasta
Keterampilan yang paling dicari ke depan bukan lagi sekadar keterampilan teknis spesifik, melainkan kombinasi antara literasi teknologi dan data di satu sisi, dengan kemampuan berpikir analitis, ketahanan menghadapi perubahan, kepemimpinan, rasa ingin tahu, dan semangat belajar sepanjang hayat di sisi lain.
Dengan kata lain, dunia kerja masa depan menuntut hybrid skills –perpaduan kompetensi teknis dan kognitif– yang tidak bisa dibentuk hanya melalui pembelajaran di ruang kelas tanpa keterlibatan aktif dunia industri.
Bagi Indonesia, tren global itu bukan ancaman semata, melainkan juga peluang, asalkan kita bergerak cepat menata ulang ekosistem talenta. Kita sedang dalam bonus demografi yang akan mencapai puncaknya dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, bonus tersebut hanya bermakna jika angkatan kerja –mulai lulusan SMK, diploma, hingga sarjana dan pascasarjana– memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan pasar kerja, baik domestik maupun global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: