Mewujudkan Indonesia sebagai Episentrum Kesehatan Global
ILUSTRASI Mewujudkan Indonesia sebagai Episentrum Kesehatan Global.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
BAGAIMANA peluang Indonesia menjadi episentrum kesehatan global? Memasuki tahun 2026, pertanyaan itu muncul karena kemungkinan Indonesia menjadi pemimpin dalam inovasi dan kesehatan dunia bukan tidak mungkin direalisasi.
Meski masih banyak hal perlu dibenahi, Indonesia memiliki potensi besar menjadi episentrum kesehatan global melalui penguatan diplomasi kesehatan, pengembangan wisata medis terintegrasi di Sanur Bali, serta kemandirian riset genomik.
Untuk mewujudkan diri sebagai episentrum kesehatan global, Indonesia harus mempercepat transformasi digital, mengatasi ketergantungan bahan baku obat, dan meningkatkan kualitas SDM untuk memenuhi standar internasional.
Langkah itu akan mengubah Indonesia dari sekadar pasar atau konsumen obat-obatan dunia menjadi leader dalam berbagai inovasi dan ketahanan kesehatan global. Tanpa didukung kemampuan SDM dalam melahirkan inovasi, sulit diharapkan posisi Indonesia dapat menjadi episentrum kesehatan global.
BACA JUGA:Komunikasi dan Empati Tenaga Kesehatan: Terapi Pertama yang Sering Terlupakan
BACA JUGA:Rasionalisasi Imunisasi bagi Tenaga Kesehatan
Tantangan dan Peluang
Selama ini salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia menjadi episentrum kesehatan global adalah adanya ketergantungan impor yang masih cukup besar. Ketergantungan impor farmasi dan alat kesehatan masih menjadi persoalan tersendiri. Hampir 90 persen bahan baku obat di Indonesia masih tergantung pada impor.
Indonesia terutama masih bergantung pada Tiongkok dan India. Sudah barang tentu, ketergantungan yang sangat besar itu akan sangat rentan dan berisiko ketika supply chain disruption terjadi di saat krisis global maupun keterbatasan strategic autonomy.
Tantangan lain yang dihadapi Indonesia untuk dapat menjadi episentrum kesehatan global adalah masih adanya kesenjangan antara riset dan inovasi kesehatan. Selama ini investasi di bidang riset dan pengembangan masih kurang dari 1 persen produk domestik bruto. Angka tersebut tentu sangat jauh tertinggal bila dibandingkan dengan anggaran serupa di berbagai negara maju.
Di Indonesia, harus diakui hilirisasi riset kesehatan juga masih lemah. Selain itu, ekosistem inovasi belum terintegrasi antara akademisi, industri, dan pemerintah. Itu semua berdampak pada Indonesia yang ujung-ujungnya masih menjadi consumer of innovation daripada sebagai leader di bidang inovasi kesehatan.
BACA JUGA:Puasa dan Kesehatan Otak
BACA JUGA:Campak, Herd Immunity, dan Tantangan Kesehatan Publik
Di Indonesia persoalan brain drain dan kapasitas SDM masih menjadi tantangan tersendiri. Beebagai talenta riset dan inovasi itu belum optimal terserap di pusat atau lembaga nasional. Mereka masih banyak yang memilih berkarier di luar negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: