Garuda, Naturalisasi, dan Rasa Indonesia

Garuda, Naturalisasi,  dan Rasa Indonesia

ILUSTRASI Garuda, Naturalisasi, dan Rasa Indonesia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

”Bangsa adalah solidaritas besar.” (Ernest Renan, pemikir Prancis, 1882) 

INDONESIA juara setelah penantian 35 tahun sejak emas sepak bola senior SEA Games 1991. Kemenangan atas Thailand pada final FIFA ASEAN Cup di Gelora Bung Karno, Senin, 5 Oktober 2026, membuat Garuda layak disebut King of ASEAN (Raja ASEAN). Namun, kegembiraan itu masih dibayangi perdebatan tentang pemain naturalisasi, termasuk sinisme dari luar negeri. 

Bahkan, di rumah sendiri, keindonesiaan mereka masih diotak-atik, dikritisi, ya dipersoalkan. Padahal, naturalisasi bukan pelanggaran, jelas. Jika kewarganegaraan dan kelayakan bermainnya sah, mengapa kita terus mengadili asal-usulnya? Mereka mengenakan paspor Garuda yang sama. 

Ketika Indonesia Raya berkumandang, para pemain timnas khidmat di tengah lapangan, juga ikut bernyanyi. Ketika Indonesia Pusaka mengalun di stadion, semua ikut menyanyikan, baik pemain lokal (akamsi) maupun naturalisasi. Paspor mereka sama kok, Garuda. 

Lihat keluarga mereka. Calvin Verdonk mempunyai ayah, Ronald Alting Siberg, kelahiran Meulaboh, Aceh, dan ibu Belanda, Tamara Verdonk. Emil Audero lahir di Mataram, Lombok, dari ayah Indonesia, Edy Mulyadi, dan ibu Italia. 

BACA JUGA:Maung Garuda dan Peluang Industri Otomotif di Indonesia

BACA JUGA:Timnas Indonesia Juarai FIFA ASEAN Cup 2026, Penantian 35 Tahun Garuda Berakhir!

Kevin Diks terhubung dengan Ambon melalui kakek-nenek dari pihak ibu. Joey Pelupessy mempunyai akar keluarga Maluku. Dean James memiliki kakek-nenek dari Semarang dan Surabaya. Thom Haye terhubung dengan Solo dan Kawangkoan, Minahasa. 

Ragnar Oratmangoen dengan Maluku. Ini bukan hubungan yang tiba-tiba diciptakan menjelang pertandingan. Ada keluarga, tempat kelahiran, dan riwayat perpindahan manusia. Apa itu belum cukup untuk menghentikan prasangka? 

Nama lainnya juga mempunyai hubungan jelas: Maarten Paes melalui nenek kelahiran Pare, Kediri; Ole Romeny melalui nenek dari Medan; Justin Hubner melalui kakek kelahiran Makassar; Ivar Jenner melalui nenek kelahiran Jember; Nathan Tjoe-A-On melalui kakek kelahiran Semarang; Jordi Amat melalui nenek Indonesia; Dion Markx melalui ayah kelahiran Palembang. 

Luke Vickery mempunyai nenek kelahiran Medan, sedangkan Mitchell Baker memiliki kakek-nenek kelahiran Yogyakarta dan Semarang. Di luar skuad juara, Jay Idzes dan Rafael Struick terhubung dengan Semarang; Sandy Walsh melalui kakek-nenek dari Surabaya dan Purworejo; Shayne Pattynama melalui ayah kelahiran Semarang. 

BACA JUGA:Amunisi Baru Timnas Indonesia, Luke Vickery Siap Bawa Garuda ke Piala Dunia 2030!

BACA JUGA:Mau Bela Timnas Indonesia, Taisei Marukawa Jalani Proses Naturalisasi

Mees Hilgers beribu keturunan Manado; Eliano Reijnders beribu kelahiran Jakarta, berdarah Ambon. Jens Raven memiliki nenek kelahiran Yogyakarta; Mauro Zijlstra nenek kelahiran Bandung; Miliano Jonathans kakek kelahiran Depok; Tim Geypens kakek kelahiran Semarang. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: