Harga Emas Dunia dan Antam bakal Terkoreksi, Momen Tepat untuk Koleksi?
Harga emas Antam 24 karat kembali mengalami penurunan pada perdagangan Kamis, 23 Oktober 2026-Dok. ANTAM-
JAKARTA, HARIAN DISWAY – Harga emas dunia dan logam mulia Antam diproyeksikan mengalami koreksi pada perdagangan pekan terakhir Oktober 2026. Namun, penurunan harga tersebut justru dinilai menjadi peluang bagi masyarakat untuk kembali mengoleksi emas.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas masih akan bergerak fluktuatif akibat penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan harga minyak mentah, serta ketegangan geopolitik global.
Dalam analisis pasar yang disampaikan Minggu, 25 Oktober 2026, Ibrahim menyebut harga emas dunia pada penutupan perdagangan pekan lalu berada di level 3.997 dolar AS per troy ounce.
BACA JUGA:Harga Emas Dunia Menguat Tipis, Pasar Cermati Minyak dan Arah Suku Bunga The Fed
BACA JUGA:Harga Emas Antam Sabtu 10 Oktober 2026, Buyback Naik Rp25 Ribu Jadi Rp2.376.000 Per Gram
Jika tekanan berlanjut, harga emas dunia diperkirakan turun menuju level support pertama di 3.951 dolar AS per troy ounce.
Bahkan, koreksi lebih dalam berpotensi membawa harga emas menuju 3.884 dolar AS per troy ounce dalam sepekan.
Sebaliknya, apabila harga emas kembali menguat, Ibrahim memperkirakan level resistance berada pada kisaran 4.053 hingga 4.138 dolar AS per troy ounce.
Harga Emas Antam Berpotensi Turun ke Rp2,39 Juta
Koreksi harga emas dunia diperkirakan turut memengaruhi pergerakan harga emas batangan Antam.
Ibrahim menyebut harga emas Antam pada penutupan perdagangan terakhir berada di posisi Rp2.525.000 per gram.
Apabila koreksi berlanjut, harga logam mulia tersebut berpotensi turun menuju Rp2.505.000 hingga Rp2.390.000 per gram dalam sepekan.
Namun, jika kembali menguat, harga emas Antam diproyeksikan bergerak menuju Rp2.545.000 hingga Rp2.690.000 per gram.
BACA JUGA:Update Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp25.000 Per Gram, Buyback Ikut Menguat!
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Turun, Pengecualian Sanksi Rusia Buka Peluang Tambahan Pasokan
Ibrahim menilai penurunan harga tersebut dapat dimanfaatkan investor untuk membeli emas secara bertahap.
"Bagi masyarakat maupun bank sentral, penurunan harga emas ini justru menjadi kesempatan terbaik untuk kembali mengoleksi (buy on dips). Harga rendah ini tidak akan selamanya, dan suatu saat emas akan kembali melonjak," kata Ibrahim.
Geopolitik Bisa Dorong Harga Emas Kembali Naik
Menurut Ibrahim, pergerakan harga emas masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, terutama konflik Rusia-Ukraina dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak mentah dunia juga berpotensi mendorong inflasi global dan memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve.
Selain itu, pasar menantikan hasil pemilu paruh waktu AS pada November 2026. Perubahan peta kekuatan politik di Kongres dinilai dapat memicu gejolak pasar keuangan.
BACA JUGA:Lonjakan Harga Minyak dan El Nino Bikin Rupiah Loyo, Bisa Sentuh Rp18.200
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Turun ke Kisaran USD 80 Pasca-Kesepakatan Damai AS-Iran
"Bulan November adalah bulan yang paling ditunggu oleh pasar untuk melihat hasil pemilu ulang di Amerika. Jika Demokrat menang, potensi impeachment dan perpolitikan yang memanas akan menjadi bahan bakar utama bagi harga emas dunia dan logam mulia untuk kembali terbang," pungkas Ibrahim.
Indeks Dolar dan Minyak Mentah Menguat, Rupiah Rawan Melemah
Dalam proyeksinya untuk perdagangan pekan depan, Ibrahim memperkirakan indeks dolar AS masih akan terus menunjukkan kekuatannya. Indeks dolar diprediksi bergerak dalam rentang range 100,90 hingga 103,10.
"Artinya, di pekan terakhir bulan Oktober ini, indeks dolar masih akan terus menguat menuju level 103,10," ujar Ibrahim dalam analisis pasarnya Minggu pagi, 25 Oktober 2026.
Sejalan dengan itu, harga minyak mentah dunia jenis WTI (West Texas Intermediate) juga diprediksi melanjutkan tren penguatannya. Level support WTI dipatok di 96,90, sementara resistance berada di 108,30. Jika WTI menyentuh level tersebut, harga brent crude oil diperkirakan bisa melesat di atas level 115.
Kondisi ini otomatis memberikan tekanan berat bagi mata uang Garuda. Dilihat dari indeks dolar yang perkasa dan harga minyak mentah yang merangkak naik, rupiah berpotensi kembali mengalami pelemahan ke level Rp18.200 per dolar AS pada pekan depan. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: