Series Jejak Naga Utara Jawa (15): Misa Hening dengan Segelintir Umat

Minggu 05-02-2023,14:20 WIB
Reporter : Tim Harian Disway *)
Editor : Retna Christa

Misa yang diikuti—atau didatangi—tim Ekspedisi Jejak Naga Utara Jawa Harian Disway itu memang begitu spesifik. Hanya yang benar-benar paham yang bisa mengikuti misa dengan baik. Walaupun, ada buku dan teks misa yang bisa kami baca—atau kami pandangi…

  TANPA suara, kami menyelinap ke deretan bangku paling belakang di Gereja Santa Maria de Fatima. Saat kami datang, Minggu sore, 15 Januari 2023 lalu, misa sudah berjalan selama lima menit. Seorang pria berkemeja kotak-kotak melihat kami dengan ekor matanya. Lalu bergerak cepat mendekati kami.   Ia mengangsurkan empat set teks misa. Isinya, masing-masing, tiga lembar kertas ukuran folio. Ia juga mengulurkan empat buku lagu bersampul biru. Pas. Tiap orang dapat satu teks misa dan satu buku lagu.   ’’Kita sudah sampai sini,’’ kata Wang Shi Da, pria itu, sembari menunjuk bagian tengah halaman pertama. Itu persis pada lagu Chuí Lián Sòng. Atau Tuhan Kasihanilah Kami dalam bahasa Indonesia. Lagu atau doa yang menyatakan pertobatan umat.   Teks yang kami terima itu tampaknya saja panjang. Sampai enam halaman. Namun, sejatinya tidak panjang-panjang amat. Sebab, teksnya terdiri dari dua baris. Baris utamanya adalah aksara mandarin. Sedangkan di atas masing-masing huruf, terdapat pinyin-nya. Atau pengucapannya.    Dalam hening, sambil sesekali berpandangan bingung, kami terus mengikuti misa tersebut. Menapaki liturgi-liturgi (tata peribadatan) baku dalam Gereja Katolik.

BACA JUGA: Bukti Akulturasi yang Menawan
 
Misa itu dipimpin Romo Kanisius Rudy CDD. Ia adalah pastor Congregatio Discipulorum Domini. Artinya, Kongregasi (tarekat) Murid-Murid Tuhan. Kongregasi itu lahir pada 1927 di Tiongkok dengan nama Chu Tu Hui (主徒会).
 
Dalam liturgi sabda, Romo mengutip Injil Yohanes 1:29-34. Ini adalah kisah tentang kesaksian Yohanes Pembaptis ketika baru kali pertama berjumpa dengan Yesus.
 
Bacaan Injil itu langsung disusul dengan shen fu jiang dao alias khotbah. Nah, khotbah ini yang tidak ada di dalam teks misa.
 
Kami pun hanya mendengarkan dalam hening. Sambil sesekali tetap berpandang-pandangan…
 
Terus terang, kami tidak memahami satu kata pun. Anggota tim ekspedisi Jejak Naga Utara Jawa tidak ada yang menguasai bahasa mandarin. Jadi, kami hanya berusaha menyimak kata-kata pastor lewat teks misa, sambil sesekali berkata, ’’Amen.’’ 
 
Di luar bahasanya, tidak ada yang berbeda. Tata caranya sama. Urut-urutannya juga sama dengan misa pada umumnya. 
 
Gereja Katolik memang punya tata peribadatan yang terpusat. Seluruh dunia sama. Bahkan, teks kitab suci yang dibacakan pun sama.
 
Saat kami mengikuti misa itu, Gereja Katolik sedang memasuki masa minggu biasa ke-2. Karena itu, imam memakai kasula (jubah) berwarna hijau. Itu pun akan sama di seluruh dunia.
 

Romo Kanisius Rudy CDD memimpin misa berbahasa mandarin di Gereja Santa Maria de Fatima, Glodok, Jakarta Barat.-TIRA MADA-HARIAN DISWAY-
 
Nah, yang berbeda di tiap-tiap gereja tentu adalah pilihan lagunya. Masing-masing gereja—atau tim paduan suara—dibebaskan memilih nyanyian yang mereka rasa pas untuk dilantunkan.
 
Oh ya, lagu-lagunya juga berbahasa Mandarin. Saat tiba waktu menyanyi, pemimpin lagu akan menginstruksikan halaman atau nomor urutan lagu berapa yang harus kita buka. Untungnya, dia berbahasa Indonesia, ’’Halaman 103.’’ Mendengar itu, kami bergegas membuka buku biru yang kami terima di awal misa.
 
Di sampul buku itu ada tiga huruf berwarna keemasan. Belakangan, melalui kawan di Harian Disway yang fasih berbahasa Mandarin, kami tahu bahwa tulisan itu berbunyi song shu ji. Artinya, Pujilah Tuhan.
 
Instruksi dari pemimpin lagu itulah satu-satunya hal yang dapat kami pahami sepanjang misa itu. Karena semua teks lagu tidak disertai pinyin. Jadi, untuk sekadar melafalkannya pun kami tak bisa… (*)
 
*) Tim Harian Disway: Doan Widhiandono, Retna Christa, Yulian Ibra, Tira Mada.
 
SERI BERIKUTNYA: Misa Berumat Oma-Opa
 
Kategori :