Beban Guru Besar Sekaligus Pimpinan PT

Kamis 12-10-2023,17:24 WIB
Oleh: Soetojo & Bagong Suyanto

UNIVERSITAS Airlangga kembali menggelar acara pengukuhan guru besar (gubes) di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen Lantai V, Kampus C Universitas Airlangga. Kali ini ada yang menarik. Dua di antara tujuh orang yang dikukuhkan ialah gubes yang merupakan pejabat perguruan tinggi (PT). 

Mereka adalah Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Miratul Khasanah yang dikukuhkan di bidang ilmu sensor elektrometri dan Direktur Sumber Daya Manusia Universitas Airlangga Endang Dewi Masithah yang dikukuhkan sebagai gubes di bidang ilmu ekologi plankton.

BACA JUGA:Puluhan Dosen FISIP Unair Healing ke Luar Negeri, Merevitalisasi Batin dan Semangat Kerja

BACA JUGA:Unair Kukuhkan 7 Guru Besar, Berikut Daftarnya...

Di tengah kesibukan sebagai pejabat dan pimpinan kampus, dua dosen senior di atas masih menyempatkan waktu untuk menulis artikel jurnal internasional, mengajar, melakukan pengabdian kepada masyarakat, dan berbagai kegiatan akademik lain hingga memenuhi persyaratan mengajukan kenaikan jabatan sebagai gubes. 

Berbeda dengan dosen yang tidak menduduki jabatan struktural, waktu luang pimpinan kampus untuk menulis karya ilmiah relatif lebih terbatas. Seorang dosen yang tidak menduduki jabatan struktural biasanya memiliki waktu yang lebih banyak untuk jeda sejenak, berkontemplasi, kemudian menulis buku atau karya ilmiah lainnya. 

Sedangkan seorang dekan atau direktur sumber daya manusia tentu harus bekerja ekstra agar tidak ketinggalan dalam kegiatan akademik sehari-hari.

 

Manfaat

Selain Miratul dan Endang, lima gubes lain yang dikukuhkan Universitas Airlangga pada 11 Oktober 2023 adalah Ni’matuzahroh dalam bidang ilmu mikrobiologi lingkungan, Sindy Cornelia Nelwan dalam bidang ilmu imunologi kompleks kraniofacial anak, Dian Agustin Wahjuningrum dalam bidang ilmu endodontik klinik dan rekayasa jaringan, serta Tania Saskianti dalam bidang ilmu rekayasa jaringan kraniofacial anak dan individu berkebutuhan khusus.

Miratul yang mendapat kesempatan pertama berpidato menyampaikan tema tentang sensor elektrometri dan aplikasinya di bidang kesehatan. Dalam pidatonya, Miratul menyampaikan bahwa keunggulan teknik analisis secara elektrometri adalah waktu yang dibutuhkan cepat, batas deteksi rendah, sensitivitas tinggi, dapat menganalisis analit dengan rentang konsentrasi yang lebar, dan sedikit membutuhkan prepatasi sampel.

Di dunia kesehatan, pengembangan perangkat diagnosis dini suatu penyakit disadari merupakan kebutuhan yang mendesak. Dari hasil kajian yang dilakukan, diketahui bahwa sensor elektrometri telah menunjukkan kinerja yang unggul dalam mengenali analit target, stabil hingga waktu yang lama, dan mudah dalam pembuatannya. 

Metode sensor elektrometri yang sudah dikembangkan itu tidak hanya dapat mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis perangkat tertentu, tetapi juga dapat membantu peningkatan sistem monitor pasien.

Sementara itu, pidato yang disampaikan Endang adalah peningkatan produksi perikanan melalui biocontrol blue green algae. Dalam pidatonya, Endang menyampaikan bahwa salah satu spesies yang perlu diperhatikan karena menimbulkan permasalahan di wilayah perairan adalah blue green algae

Dampak blooming microcystis aeriginosa sering menimbulkan kerugian, baik bagi ekosistem perairan maupun ekosistem terestrial yang memanfaatkan air tersebut. Hewan ternak, bahkan manusia yang mengonsumsi air minum yang mengalami blooming microcystis aerginosa bukan tidak mungkin akan mati.

Kategori :