Eksplorasi Masa Muda, Problematika Remaja dalam Karya Atya Ifadah

Sabtu 06-01-2024,19:51 WIB
Reporter : Guruh Dimas Nugraha
Editor : Heti Palestina Yunani

HARIAN DISWAY – Atya Ifadah menjadi satu-satunya pelukis paling muda dalam pameran Beyond Art yang diselenggarakan Dewan Kesenian Sidoarjo, di Dekesda Art Center, Jalan Erlangga 67, Celep, Sidoarjo, pada 23-31 Desember 2023 lalu.

Bersama karya pelukis lain yang notabene telah punya nama -sebut saja Karyono dan Amdo Brada, guru Atya-, ada sisi menggelitik dari Atya. Sebagai anak muda, Atya menangkap lingkungan sosialnya. Terutama tentang dirinya. "Saya lebih peka menyoroti apa yang saya rasakan dan alami," ujarnya. 

Sebut saja anggapan bahwa anak muda masa kini seakan punya dunianya sendiri. “Itu betul. Saya pun mengungkapkan masalah itu," tambahnya. Ia lantas menunjuk salah satu karyanya berjudul Distraksi.

BACA JUGA:Kupas Kisah Sejoli Rama-Sinta, Sruntulisme Gelar Pameran Arsip Ramayana 

Memvisualkan seorang remaja dengan kepala televisi yang berwarna-warni. Di sebelahnya, terdapat berbagai objek alam yang dilukisnya dengan gaya dekoratif. Seorang anak perempuan duduk dan memandangi objek-objek itu.

Antara figur remaja dan figur anak perempuan itu seperti tak berhubungan. Tapi jika ditelaah lebih jauh, Atya sedang menggambarkan bayang-bayang masa kecil, dan keadaan para remaja masa kini. Bisa juga tentang dirinya sendiri. Atya kecil dan Atya remaja.

Generasi masa kini saat kecil kerap ditunjukkan berbagai hal menarik. Pengalaman itu akan membekas dalam benaknya. Sedangkan saat remaja, mereka cenderung disibukkan dengan tayangan-tayangan dari smartphone. Gawai begitu memerangkap keberadaan mereka. Baik di tengah masyarakat, atau pun terhadap dirinya sendiri.

Tak seperti anak kecil yang tanggap jika diberi pertanyaan, remaja kini cenderung mengalami distraksi. Istilah populernya "ke-distruct". Seperti diajak berbicara, tapi tidak fokus, dan malah membayangkan hal-hal lain. 

BACA JUGA: 10 Kosakata Gaul Ala Gen Z, Dari Skena Sampai Gak Bahaya Ta

"Paling sering ketika seseorang lebih memikirkan tayangan smartphone. Sehari enggak update, rasanya kurang pas. Maka wajar ketika diajak ngobrol, perhatiannya teralihkan. Ke-distruct cenderung memikirkan hape. Itu dialami semua remaja masa kini. Bahkan saya juga pernah," ungkap perupa 20 tahun itu.

Anak kecil di tengah pemandangan alam itu pun bisa dimaknai sebagai gambaran kerinduan. Seorang Atya yang rindu dengan masa kecilnya yang mungkin jauh dari pengaruh smartphone. Atau bisa juga menggambarkan diri Atya yang hidup di lingkungan perkotaan, kemudian rindu dengan suasana alam. Hidup di kota, lalu pikirannya ke-distruct dengan gambaran perdesaan yang asri.


Lukisan dengan tema problematika remaja karya Atya Ifadah--

Dia belajar melukis di bawah bimbingan Amdo. Sebenarnya, lukisan keduanya bertolak-belakang. Amdo lekat dengan dekoratif-etniknya. Sementara Atya cenderung realisme. Namun, justru Atya memilih belajar di bawah pelukis dekoratif, demi pengembangan lukisannya.

"Pak Amdo memang enggak pernah melukis realisme. Beliau konsisten dengan karakter karyanya. Tapi eksplorasi adalah kunci utama. Juga, Pak Amdo banyak memberi masukan-masukan positif," katanya. 

BACA JUGA:Spiritualitas Karyono dalam Lukisan: Hati Penuntun Segala

Kategori :