Gerry Utama, Ilmuwan Termuda Indonesia ke Antartika: Hasil Penelitian untuk Rusia

Selasa 05-03-2024,08:48 WIB
Reporter : Mohamad Nur Khotib
Editor : Tomy Gutomo

Begitu banyak diaspora yang menimba ilmu di luar negeri. Sebagian dari mereka mengharumkan nama Indonesia. Salah satunya, Gerry Utama, mahasiswa pascasarjana Saint Petersburg University, Rusia, yang kini sedang dalam misi riset berlayar ke Antartika.

—---------

GERRY bukan orang Indonesia pertama yang menempuh perjalanan ke Antartika. Sebelumnya ada Agus Supangat yang berlayar dengan kapal Rusia menuju Benua Abu-abu itu pada 2002. Kemudian ada Nugroho Iman seorang teknisi geologi yang berlayar dengan kapal Jepang.

Namun, dari dua nama itu, Gerry terhitung sebagai ilmuwan termuda Indonesia yang bakal menapakkan kaki di Antartika. Lelaki kelahiran Palembang tersebut masih berusia 30 tahun. Yang kini tengah menuntaskan studi S2 Paleogeografi di St. Petersburg University, Rusia.

Gerry terlibat dalam misi Russia Antarctica Expedition (RAE) ke-69 yang berlangsung selama Maret-Juli 2024. Baru lepas dari daratan St. Petersburg lima hari lalu pada Jumat, 1 Maret 2024. Ia menumpang Kapal Akademik Tryoshnikov milik Pemerintah Rusia. Bersama sekitar 70 peneliti dari berbagai kampus dan lembaga riset.

“Ini saya baru sampai di perairan Denmark,” ujarnya saat dihubungi via telepon, Senin pagi, 4 Maret 2024. Gerry mengirim tautan titik lokasi posisi kapalnya berada: Kattegat. Yakni selat laut di utara Denmark antara Semenanjung Jutlandia dan Swedia. Bagian terpenting dari perairan Bultik Utara dan merupakan jalur lalu lintas kapal.

Selisih waktunya sekitar enam jam dari Indonesia bagian barat. Gerry pun mengangkat telepon kami pada pukul 01.00 dini hari waktu setempat.

Jarak Rusia ke Antartika mencapai 16.131 kilometer. Butuh waktu 35 hari berlayar. Diperkirakan baru tiba di sana pada 5 April 2024. Masih 30 hari lagi. Saat ini, kapal mereka akan keluar Atlantik menuju Cape Town, Afrika Selatan. Dan itu pun baru dijadwalkan sampai pada Senin, 25 Maret 2024. 

Tentu saja, ini menjadi pengalaman mengesankan sekaligus bersejarah bagi Gerry. Apalagi, di tengah perjalanan nanti memasuki Ramadan. Gerry bakal lebih banyak melakoni puasa di perairan. “Seru sih. Ini seperti di luar nalar. Saya terlibat proyek penelitian strategis,” jelas sarjana Geomorfologi jebolan Universitas Gadjah Mada itu.

Gerry memang salah satu penerima beasiswa pascasarjana dari St. Petersburg University angkatan 2022. Ia sengaja mengambil S2 jurusan Paleogeografi lantaran ilmu tersebut punya keterkaitan kuat dengan kondisi di Indonesia.

Seperti sejumlah fenomena kuarter yang besar pernah terjadi di Tanah Air. Mulai dari letusan Toba, Tambora, hingga Samalas. Semua fenomena itu bahkan memengaruhi iklim global.

Pada risetnya di Antartika nanti, Gerry sekaligus mengembangkan untuk disertasi. Judulnya: Geomorfologi di Pulau King George. Yakni menghasilkan peta geomorfologi Pulau King George terbaru. 

Ia akan singgah kali pertama di Stasiun Mirny. Menggali informasi dan data yang terjadi di masa lampau. Kemudian diinterpretasi untuk penyusunan secara periodik. “Suplemennya banyak nanti. Rekonstruksi arsip zona Antartika juga. Semoga bisa bermanfaat untuk pengembangan ilmu,” jelasnya.

Kategori :