Di beberapa wilayah Tepi Barat, terutama di sekitar Penjara Ofer, pasukan keamanan Israel berusaha membatasi perayaan pembebasan ini.
BACA JUGA:Hamas Serahkan Tiga Sandera Israel, Israel akan Bebaskan 369 Tahanan Palestina
Beberapa jam setelah kelompok pertama dibebaskan di Tepi Barat dan Yerusalem, lebih dari 400 tahanan lainnya juga dibebaskan ke Jalur Gaza.
Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang ditangkap setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Setelah tiba di Gaza, beberapa tahanan langsung dibawa ke Rumah Sakit Eropa di Khan Younis untuk pemeriksaan kesehatan.
BACA JUGA:Gencatan Senjata Gaza Terancam Batal, Israel Tuduh Hamas Ingkari Perjanjian
AFP mengkonfirmasi, bahwa menurut pejabat Hamas, lebih dari 600 tahanan Palestina dibebaskan dalam semalam.
Dilansir dari AFP, Kantor media Hamas melaporkan bahwa dari ratusan tahanan yang dibebaskan, terdapat 21 anak di bawah umur dan satu perempuan.
Selain itu, Israel juga mengirim jenazah seorang perempuan asal Gaza yang tidak teridentifikasi ke rumah sakit di wilayah tersebut.
BACA JUGA:8 Menteri Menentang, Kabinet Israel Tetap Teken Gencatan Senjata Dengan Hamas, Berlaku Minggu
Jenazah itu sebelumnya diserahkan Hamas sebagai pengganti jenazah sandera Shiri Bibas, yang telah dikembalikan ke Israel pada akhir pekan lalu.
Pembebasan ini menandai akhir dari fase pertama kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 19 Januari 2025.
Dalam kesepakatan gencatan senjata pertama ini, Hamas setuju untuk membebaskan 33 sandera, termasuk delapan yang sudah meninggal, sebagai imbalan atas pembebasan 1.900 tahanan Palestina yang ditahan di Israel.
Di Washington, utusan utama Presiden Donald Trump untuk Timur Tengah,Steve Witkoff menyatakan bahwa perwakilan Israel sedang menuju ke perundingan terkait tahap berikutnya dari gencatan senjata.
"Kami telah mencapai banyak kemajuan. Israel sedang mengirim tim saat ini," kata Steve Witkoff dalam acara Komite Yahudi Amerika, yang dilansir dari kantor berita AFP.