Ramadan Kareem 2025 (26): Mudik, Ingat Gaza

Rabu 26-03-2025,05:00 WIB
Reporter : Suparto Wijoyo *)
Editor : Heti Palestina Yunani

Akankah Israel bertindak yang tidak sehaluan dengan keberadaanya sebagai elemen dasar holyland tiga agama? Apabila ini tidak diatasi dan disadari dengan ketulusan jiwa Pemerintahan Israel, maka selama itu pula Isreal menabuh genderang perang dan perlawanan pada ketertiban dunia. 

Israel berarti tidak hendak mendamaikan bumi sambil mambasuh luka dunia dengan penuh keteduhan. Israel mutlak menyadari bahwa sejarah peradaban pada titik kulminasinya akan selalu mencapai tataran yang tetap memenangkan kemanusiaan dengan derajat ketuhanannya yang sejati. 

Apabila Sekjen PBB sudah mengecam langkah brutal Israel masih tidak didengar apalagi dianggap, atau kecaman masyarakan dunia yang bernaung di PBB tidak digubris, tampaknya orang Jawa perlu mengambil prakarsa terdepan untuk “menjewer” Israel.

BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (17): Belajar Takwa Semesta

Saatnya sejarah orang Jawa diintrodusir dalam kerangka jejaring peradaaban kepada Israel untuk saling mengerti dan selanjutnya memahami apa artinya bangunan terminologis yang ribuan tahun ini terjalin.

Saya memiliki daya kepercayaan bahwa ada hubungan kehidupan antara komunitas Yahudi dengan Jawa dalam jejaring eksostem teologis. Tuhan mencipta sebuah bangsa menurut Al-Qur'an berbangsa-bangsa agar saling mengenal dan tentu sambil merujuk kedekatan teologisnya.

Atas nama Tuhan dan kemanusiaan dapat ditebar suatu studi yang mendalam agar Yahudi dapat diperingatkan atau memperhatikan seruan orang-orang Jawa sebagai kesatuan kosmologis dunia yang menyejukkan.

BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (16): Ramadan dan Rimbawan

Ini tentu saja membutuhkan penelitian dan pemahaman komprehensif yang mencoba terbuka dalam hubungan dilalogis-kosmopolis-ekologis dan teologis. Hubungan Jawa dan Yahudi terutama dengan kesatuan hakikat umat Bani Israel tentu dapat ditelusuri pada kisah-kisah kenabian Musa alaihissalam serta saudara-saudaranya.

Bahkan Ibu Kota Israel yang bernama Tel Aviv diyakini para penstudi komtemporer memiliki hubungan, paling tidak secara semantik-tematik dan ideomatik yang paling terang dengan Jawa. 

Terhadap hal ini Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) pernah menyatakan dan mempertanyakan kenapa Tel Aviv bernama Jaffa Tel Aviv, kenapa pusat-pusat Yahudi di Amerika, Kanada, Belanda, Australia, dan lain-lain bernama Jaffa.

BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (15): Hilyatul Auliya

Apa hubungan antara “j” dan “w” dalam kata Jewish atau Yahudi dengan kata Jawa, Yehovah, dan seterusnya? Saya sendiri memang menjadi terinspirasi untuk berpandangan terdapatnya “jalinan keadaban”: antara Jawa dengan Yahudi. 

Sama dengan kata Ingris untuk menyebut orang Yahudi yang dilansir dengans penamaan Jews, tidak adakah hubungan antara Jews dengan Jawa, Jaffa dengan Java, Yehovah dengan Jewish kemudian berkembang secara simplistik dengan sebutan Jawa? 

Cak Nun selanjutnya memberitahukan bahwa di sebuah negara di Eropa (bukan Belanda) ada sejumlah kelompok di muka bumi yang memiliki bahan tentang Jawa, yang orang Jawa sendiri tidak tahu apa-apa mengenai dirinya.

BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (14): Momentum Bertahannuts

Kategori :