Sejarah Tradisi Mudik Lebaran di Indonesia: Dari Zaman Kerajaan hingga Era Modern

Minggu 30-03-2025,06:25 WIB
Reporter : Mohamad Nur Khotib
Editor : Mohamad Nur Khotib

BACA JUGA:16,8 Juta Pemudik Masuk ke Jawa Timur, Khofifah Imbau Waspada Hujan

Dengan semakin banyaknya orang yang bekerja jauh dari kampung halaman, tradisi mudik pun menjadi bagian dari budaya yang terus bertahan hingga saat ini.

Mudik juga memiliki makna sosial dan budaya yang mendalam. Tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap keluarga serta leluhur.

Menurut sejarawan dari Universitas Indonesia Dr. Bambang Setiawan, mudik adalah salah satu bentuk manifestasi dari nilai sosial masyarakat Indonesia yang masih kuat.

BACA JUGA:Mudik Gratis BUMN 2025: BRI Group Berangkatkan 8.482 Pemudik

"Mudik merupakan simbol dari kuatnya hubungan keluarga dan komunitas. Para perantau rela menempuh perjalanan panjang demi berkumpul kembali dengan keluarga dan mempererat silaturahmi," ujarnya.

Selain itu, tradisi mudik juga berdampak besar pada perekonomian lokal. Para pemudik biasanya membawa uang hasil kerja mereka selama merantau dan membelanjakannya di kampung halaman. Sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah asal mereka.

"Selama musim mudik, perputaran uang di daerah meningkat drastis. Sektor transportasi, kuliner, dan perdagangan lokal mengalami lonjakan pendapatan yang signifikan," ujar ekonom dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rahmat Hidayat.

BACA JUGA:Puncak Arus Mudik 28 Maret, 49 Ribu Penumpang Padati Stasiun Wilayah Daop 8 Surabaya

Di era modern, tradisi mudik tetap bertahan meskipun menghadapi berbagai tantangan.

Kemacetan lalu lintas yang parah, lonjakan harga tiket transportasi, serta risiko kecelakaan menjadi beberapa masalah utama yang harus dihadapi setiap musim mudik.

Untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pemudik, pemerintah setiap tahunnya menyiapkan berbagai kebijakan seperti sistem rekayasa lalu lintas, penyediaan transportasi umum tambahan, serta program mudik gratis bagi masyarakat kurang mampu.

BACA JUGA:Arus Mudik Aman: Inilah Rute Perjalanan Surabaya-Blora

Selain itu, kemajuan teknologi komunikasi memungkinkan para perantau tetap terhubung dengan keluarga meskipun tidak bisa pulang.

Namun, bagi banyak orang, mudik tetap dianggap sebagai pengalaman yang tidak tergantikan.

Karena momen berkumpul secara langsung memiliki nilai emosional yang lebih mendalam dibanding sekadar berkomunikasi melalui telepon atau video call.

Kategori :