Jaringan kemanusiaan terbesar di dunia itu menyatakan bahwa kebutuhan terus meningkat setiap jamnya. Terutama karena suhu yang semakin tinggi dan musim hujan yang mendekat dapat memicu krisis sekunder.
Orang-orang mengambil foto saat alat berat digunakan untuk membersihkan puing-puing di lokasi runtuhnya bangunan yang sedang dibangun di Bangkok pada 31 Maret 2025, tiga hari setelah gempa bumi melanda Myanmar tengah dan Thailand.-Chanakarn Laosarakham / AFP-
Myanmar, yang berpenduduk lebih dari 50 juta orang, menghadapi tantangan besar. Bahkan sebelum gempa terjadi. Negara tersebut telah dilanda perang sipil selama empat tahun yang dipicu oleh kudeta militer pada 2021 silam.
BACA JUGA:Kisah Phyu Lay Khaing Selamat dari Maut dalam Gempa Myanmar
Laporan juga menyebutkan bahwa bentrokan sporadis terus terjadi meskipun setelah gempa. Pada Minggu, sebuah kelompok pemberontak mengatakan kepada kantor berita Agence France-Presse bahwa tujuh pejuangnya tewas dalam serangan udara yang terjadi tak lama setelah gempa.
Sebelum gempa, sekitar 3,5 juta orang telah mengungsi akibat perang sipil yang berkepanjangan. Banyak dari mereka menghadapi ancaman kelaparan.
Runtuhnya Bangunan di Bangkok
Di Bangkok, Thailand –sekitar 1.000 kilometer dari Mandalay– hujan turun pada Senin pagi di lokasi konstruksi bangunan yang runtuh saat gempa Jumat. Pihak berwenang di Bangkok menyatakan bahwa setidaknya 18 orang tewas, 33 terluka, dan 78 lainnya masih hilang.
BACA JUGA:Gempa Dahsyat Guncang Myanmar dan Thailand, Korban Jiwa Capai 1.600 Lebih
Sebagian besar korban meninggal adalah pekerja yang tewas dalam runtuhnya menara tersebut. Sementara itu, sebagian besar orang yang masih hilang diyakini terperangkap di bawah puing-puing besar yang sebelumnya merupakan gedung pencakar langit.
Selama akhir pekan, tim penyelamat bekerja cepat untuk menemukan korban selamat. Mereka menggunakan alat berat untuk membersihkan puing-puing. Sementara anggota keluarga yang cemas menunggu di sekitar lokasi.
Anjing pelacak dan drone pencitraan termal juga telah dikerahkan untuk mencari tanda-tanda kehidupan di reruntuhan bangunan yang terletak di dekat pasar akhir pekan Chatuchak, yang populer di kalangan wisatawan. (*)