Open house-bersalaman, ngetren hari-hari ini. Tidakkah berbahaya untuk kesehatan? Pasti tidak sebahaya empat-lima tahun lalu. Tapi, tetap menyalurkan kuman dari tangan ke tangan. Bagaimana kalau kumannya dari feses, seperti hasil riset di London, Inggris? Memang kuman jenis itu tidak terlalu bahaya. Cuma, baunya itu…
”MAAF lahir batin” sering diucapkan orang sejak Lebaran lalu sampai beberapa hari ke depan. Jika diucapkan dua orang atau lebih bertatap muka, dibarengi bersalaman.
Empat-lima tahun lalu orang takut bersalaman karena pandemi Covid. Bahkan, pemerintah Indonesia (juga internasional) melarang orang berkumpul. Apalagi, sampai bersalaman. Kini hal itu sudah berlalu. Orang bebas kunjung-mengunjungi di hari Lebaran. Juga, bersalaman.
BACA JUGA:Etika Open House Lebaran: 10 Hal yang Sebaiknya Dihindari saat Bertamu
Dari mana asal budaya salaman? Tidak diketahui pasti. Sudah dilakukan manusia di berbagai negara sejak lama.
Dikutip dari National Geographic, 13 Maret 2020, berjudul Why do we touch strangers so much? A history of the handshake offers clues, karya Nina Strochlic, disebutkan, budaya salaman sudah ada sejak ribuan tahun silam.
Disebutkan, di zaman kuno jabat tangan diketahui ada di vas bunga, batu nisan, dan lempengan batu dalam adegan pernikahan, juga prajurit muda yang berangkat berperang. Dalam karya sastra, ada di Iliad dan Odyssey.
Iliad dan Odyssey adalah epos dari kebudayaan Yunani Kuno, Iliad, dan lanjutannya, Odyssey, karya Homer. Itu menjadi karya sastra paling berpengaruh di dunia yang dibuat pada masa awal peradaban manusia.
BACA JUGA:Open House Seru! Wisma Jerman Ajak Pengunjung Bugar dan Sehat
BACA JUGA:Open House Wisma Jerman, Promosikan Budaya Hemat Energi
Relief batu abad ke-9 SM menggambarkan Raja Shalmaneser III dari Asyur berjabat tangan dengan seorang Babilonia. Jabat tangan muncul dalam seni di seluruh dunia kuno.
Di Amerika Serikat, bersalaman dilakukan kaum Quaker pada abad ke-18. Dalam upaya mereka untuk menghindari hierarki dan peringkat sosial, mereka menganggap jabat tangan sebagai bentuk sapaan yang lebih demokratis daripada membungkuk hormat atau melepas topi yang umum dilakukan saat itu.
Sebuah studi tahun 2015, para peneliti di Israel memfilmkan jabat tangan antara ratusan orang, diketahui hampir seperempat peserta mengendus tangan mereka setelahnya.
BACA JUGA:Idulfitri 2025, Gubernur Khofifah Open House di Grahadi