Teater Gapus Pentaskan Endgame, Bentuk Protes Sosial melalui Karya Teater

Jumat 29-08-2025,14:00 WIB
Reporter : Nazwarahma Hannum Prasetya*
Editor : Guruh Dimas Nugraha

HARIAN DISWAY - Di tengah derasnya pemberitaan mengenai kondisi sosial dan pemerintahan Indonesia, banyak kalangan muda merasa terpanggil untuk bersuara.

Tidak hanya lewat aksi demonstrasi atau media sosial. Seni pun menjadi medium ampuh untuk menyampaikan kritik yang tajam namun elegan. 

Salah satunya adalah komunitas Teater Gapus Surabaya, yang memilih panggung teater sebagai ruang refleksi publik.

BACA JUGA:Kritik Fenomena Konsumerisme, Teater Gapus Garap Manufaktur Anatomi Kera

Mereka akan mementaskan "Endgame", naskah klasik karya Samuel Beckett, pada 29 Agustus pukul 18.30 di Gedung WS Rendra, FIB UNAIR Kampus B.


Teater Gapus melakukan gladi resik pada 27 Agustus 2025 untuk mempersiapkan pementasan Endgame. -Istimewa-

Naskah Endgame

"Endgame" pertama kali dipentaskan pada 1957. Dikenal sebagai drama absurdis yang menggambarkan kehampaan hidup dan siklus kekuasaan yang tak berkesudahan.

Drama satu babak itu menghadirkan Hamm, pria tua buta yang tak bisa bergerak; Clov, asistennya yang tak bisa duduk; serta tiga orang tua Hamm, Nagg dan Nell, yang tinggal di dalam tong sampah.

BACA JUGA:Teater (Non) Industri

Mereka terjebak dalam ruangan kosong. Menunggu akhir yang tak pasti. Sebuah metafora kebuntuan hidup yang terasa akrab bahkan hingga hari ini.

Relevansi Endgame dengan Kondisi Saat Ini

Naskah itu relevan karena menunjukkan bagaimana kekuasaan bisa terputus dari realitas rakyat.

Hamm yang memerintah tanpa empati mencerminkan pemimpin yang terisolasi. Sementara Clov terus bergerak tanpa tahu arah. Seperti masyarakat yang bekerja keras tetapi tak pernah benar-benar bebas.

BACA JUGA:Adisaroh: Pementasan Teater Tentang Kisah Cinta Dari Studio Daluang di Balai Budaya Surabaya

Kehadiran Nagg dan Nell mengingatkan kita pada suara masa lalu yang sering diabaikan.

“Tak ada yang lebih lucu daripada ketidakbahagiaan,” ujar Nell, sebuah kalimat yang menyoroti ironi hidup:  penderitaan bisa mengundang tawa pahit.

Kategori :