Memetakan Perang Narasi di Balik Panggung Demokrasi

Jumat 19-09-2025,08:50 WIB
Oleh: Ilham Baskoro*

Dalam panggung ini, realitas sering dikalahkan persepsi dan kebenaran digantikan narasi yang paling meyakinkan. Ibarat menyulap si pecundang menjadi pahlawan atau sang pahlawan menjadi pecundang.

Bahaya yang mengintai adalah ketika demokrasi hanya menjadi ilusi optik, di mana rakyat merasa berpartisipasi, tetapi sesungguhnya hanya diprovokasi oleh mereka yang menguasai instrumen produksi wacana. 

Pemerintah dengan perangkat propagandanya, media dengan logika komersialnya, dan masyarakat dengan algoritma viralnya. Semua berkontribusi membentuk demokrasi yang makin sulit dibedakan antara realitas atau provokasi semata.

Pada akhirnya, dalam situasi semacam ini, literasi media menjadi kebutuhan mendesak. Publik tidak bisa hanya larut dalam arus informasi yang deras, melainkan harus mampu membongkar konstruksi narasi yang ditawarkan. 

Hanya dengan kesadaran kritis semacam itu, demokrasi tidak terjebak menjadi sekadar panggung sandiwara politik. Sehingga muncul ruang bagi suara rakyat yang memang sudah wajib didengar oleh rezim penguasa.

Tetaplah bersuara di ruang digital. Jangan biarkan panggung ini hanya dikuasai oleh mereka yang ingin membungkam. Biarlah suara kita menjadi gema yang mengingatkan bahwa rakyat masih punya kuasa untuk menulis kebenaran. (*)

*) Ilham Baskoro adalah mahasiswa fastrack magister kajian sastra dan budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.

 

Kategori :