Rekor Pasar Modal

Kamis 11-12-2025,08:06 WIB
Reporter : Imron Mawardi*
Editor : Yusuf Ridho

BURSA Efek Indonesia (BEI) benar-benar bergairah tahun ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus naik hingga mencetak rekor tertinggi 23 kali sepanjang 2025. Kemarin IHSG tercatat menembus rekor 8.749,26 meski akhirnya ditutup di level 8.659,91.

Tren bullish di pasar modal itu mendorong kapitalisasi pasar BEI mencapai Rp15,84 triliun. Transaksi rata-rata harian mencapai Rp16,64 triliun dari 954 emiten yang mencatatkan sahamnya di BEI. Transaksi sebesar itu dikontribusi oleh investor aktif harian yang mencapai 228 ribu investor. 

Total fund-raise sepanjang 2025 juga cukup tinggi. Mencapai Rp223,1 triliun. Jumlah itu terdiri atas saham Rp15,2 triliun, surat utang/obligasi Rp289,4 triliun, dan lainnya Rp18,5 triliun. 

BACA JUGA:Peringati Hari Pasar Modal Indonesia, Khofifah Ajak Masyarakat Cerdas Berinvestasi di Era Digital

BACA JUGA:Deepseek Berguncang, Pasar Modal AS Tumbang

Banyak faktor mengapa pasar modal begitu bergairah. Salah satunya, tak lepas dari kehadiran Menteri Keuangan Purbaya Sadewa pada 8 September 2025 yang menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Saat itu IHSG masih di level  7.750-an. Artinya, dalam 3,5 bulan ini, IHSG sudah meningkat sekitar 13 persen. Secara keseluruhan sejak Januari lalu, IHSG sudah naik 20,20 persen. 

Yang menarik, dari 23 kali rekor tertinggi IHSG, sebanyak 22 kali terjadi pada kepemimpinan Purbaya di Kementerian Keuangan. Hanya satu kali terjadi rekor tertinggi IHSG di era Sri Mulyani 2025. 

Lalu, apakah ini hanya euforia ataukah ini didasari oleh fundamental ekonomi yang kuat? Yang pasti, gairah pasar modal dan rekor baru IHSG bukanlah peristiwa tunggal. Itu hasil akumulasi berbagai faktor struktural, kebijakan, dan sentimen global yang saling bertemu pada momentum yang tepat.

BACA JUGA:Tanggal 3 Juni Dikenal Hari Apa? Ada Hari Pasar Modal Indonesia

BACA JUGA:Potensi Pengembangan Aset Wakaf Melalui Instrumen Pasar Modal Syariah

Pertama-tama, pasar modal tidak pernah bergerak di ruang hampa. Ia selalu mencerminkan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi riil. Indonesia saat ini berada pada posisi yang relatif baik jika dibandingkan dengan banyak negara berkembang lain. Pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran 5 persen, inflasi terkendali, dan defisit fiskal dijaga pada tingkat yang prudent.

Stabilitas itu penting. Bagi investor, baik domestik maupun asing, stabilitas berarti kepastian. Kepastian itulah yang menjadi ”bahan bakar” utama pasar modal. Ketika ekonomi tumbuh tanpa gejolak besar, pelaku pasar berani mengambil risiko yang lebih tinggi dan saham menjadi instrumen yang menarik.

Lebih jauh, struktur ekonomi Indonesia yang ditopang oleh konsumsi domestik membuatnya relatif tahan terhadap guncangan eksternal. Di tengah perlambatan global, konsumsi kelas menengah Indonesia tetap menjadi jangkar pertumbuhan. Banyak emiten besar di BEI adalah perusahaan konsumsi, perbankan, dan telekomunikasi yang langsung menikmati kekuatan pasar domestik itu.

BACA JUGA:MSIE Resmi Melantai Pasar Modal, Emiten Pertama yang Fokus pada Infrastruktur Pendidikan

BACA JUGA:Darbe Group, UKM Surabaya yang Sukses di Pasar Modal (1)

Kategori :