Latar Belakang Siswi SD Bunuh Ibunda di Medan: Ada Tiga Penyebab

Rabu 31-12-2025,10:03 WIB
Reporter : Djono W. Oesman
Editor : Yusuf Ridho

SAS kemudian naik ke lantai dua, menuju kamar ayah. AI mengikuti dari belakang (tanpa pisau). SAS membangunkan Alham, memberitahukan kejadian itu. Alham syok. Lantas, Alham, SAS, dan AI menangis berpelukan. 

Selanjutnya, mereka bersama-sama turun ke lantai satu, menuju kamar ibunda.

Calvin: ”Kakak dan bapak mengecek kondisi korban. Sedangkan AI terduduk lemas di sofa ruang tamu. Si adik duduk termenung di situ sampai datangnya saksi para tetangga akibat teriakan si kakak yang histeris.”

Polisi sudah mengolah TKP beberapa kali. Hasil uji laboratorium forensik, tidak ditemukan DNA Alham atau SAS di tubuh korban. DNA SAS ada, berupa darah yang menempel di pisau yang dirampas. Jadi, polisi yakin bahwa pelakunya AI.

Terus, mengapa pelaku bisa begitu brutal?

Calvin menduga, ada tiga penyebab. Pertama, pelaku sering melihat korban memukuli kakak (SAS). Juga, pelaku sering melihat korban menyerang ayah, bahkan pernah mengancam ayah dengan menggunakan pisau (Alham-Faizah pisah ranjang).

Calvin: ”Kedua, saat malam, beberapa jam sebelum kejadian, pelaku melihat kakak (SAS) dipukuli korban dengan menggunakan sapu dan ikat pinggang.”

Ketiga, pelaku sakit hati karena game online miliknyi dihapus korban. Game online itu berjudul Murder Mystery. Selain itu, pelaku terobsesi dari game dan film anime yang menggambarkan pembunuhan menggunakan pisau. Mungkin pelaku meniru itu.

Tiga unsur tersebut dugaan polisi. Lantas, apa kata psikolog Irna?

Dijelaskan Irna, anak yang terpapar kekerasan yang dilakukan orang tua (korban) juga ditambah dengan tontonan game kekerasan menimbulkan trauma besar.

Irna: ”Cuma, pertanyaannya, yang sering kena sasaran pukulan orang tua (korban) kan kakaknya. Bukan adiknya. Kok, si adik yang merasa sakit hati, lalu membunuh orang tua?” 

Dilanjut: ”Perlu diketahui, hubungan antara kakak dan adik sangat kuat. Jauh lebih erat daripada hubungan anak dengan orang tua. Di situ kakak jadi role model si adik.”

Irna juga memeriksa dan menerapi SAS.

Irna: ”Saya juga menangani kakak (SAS). Sebenarnya si kakak tidak sesakit hati adiknya terhadap perlakuan ibu mereka. Karena kakak berusaha memaklumi apa yang dilakukan ibunya. Kekerasan yang dilakukan ibu terjadi sejak tiga tahun ayah-ibu pisah ranjang.”

Lengkap sudah konstruksi perkara itu. Polisi dan Irna menduga, game online kekerasan yang digemari pelaku punya andil memicu pembunuhan. Pelaku meniru kekerasan di game online.

Game online dicurigai sangat banyak ortu, sangat mungkin bisa berdampak negatif terhadap pemain anak. Antara lain, memicu anak bertindak kekerasan. Namun, belum ada riset tentang dugaan tersebut.

Kategori :