Di wilayah Lawe Alas, Desa Natam, Ketambe, dan Kampung Simpur, pekerjaan meliputi perbaikan jalan akses serta pembangunan tanggul sungai.
Pada koridor Gayo Lues–Kutacane, Hutama Karya mendukung penanganan Jembatan Lawe Penanggalan dan Jembatan Mengkudu 1, termasuk pekerjaan pengalihan aliran sungai, pembuatan tanggul, pemindahan jalan akses, dan perbaikan badan jalan.
Jalan akses baru juga dibangun di Serkil untuk memulihkan keterhubungan antarwilayah.
Di Aceh Tamiang, pengerahan 13 unit excavator, motor grader, dan dump truck dilakukan di sejumlah titik seperti Karang Baru, Desa Rantau, GOR Aceh Tamiang, Kuala Simpang, hingga Desa Lintang Kuala.
BACA JUGA:23 Daerah di Sumatra Masuk Fase Transisi Darurat, Korban Meninggal Capai 1.157 Jiwa
Selain itu, Hutama Karya turut mendukung rehabilitasi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Rantau, mulai dari pembersihan akses dan saluran air, pemasangan tandon, hingga pengeboran sumur air bersih dengan melibatkan 33 personel.
Pemulihan akses fasilitas publik juga dilakukan, termasuk pembersihan jalan menuju Pondok Pesantren Al-Mukhlisin dan Puskesmas Alur Cucur.
Kehadiran Kementerian PU dan Hutama Karya di Aceh telah dimulai sejak 27 November 2025, beberapa hari setelah bencana terjadi. Hingga kini, proses pemulihan telah berlangsung selama 39 hari secara berkelanjutan.
Dipercaya sebagai perpanjangan tangan pemerintah, Hutama Karya telah menerjunkan lebih dari 118 personel, terdiri dari 19 personel inti, 57 operator, 32 pekerja, dan 10 tim perencana.
BACA JUGA:Daftar Influencer Kena Teror Bangkai Ayam hingga Bom Molotov usai Soroti Bencana Sumatra
Paket pekerjaan Kementerian PU meliputi sektor Sumber Daya Air di Tanggul Sungai Lawe Alas, Penanganan Lawe Bulan, dan Natam.
Dari sektor Bina Marga, penanganan dilakukan pada ruas Kutacane–Gayo Lues, Gayo Lues–Blangkejeren, serta Blangkejeren–batas Aceh Tengah. Sementara sektor Cipta Karya menangani IPA di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Tenggara, dan Aceh Selatan.
Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Mardiansyah menegaskan bahwa pekerjaan tanggap darurat berangkat dari kebutuhan mendesak untuk membuka kembali akses warga.
Kementerian PU bergerak dan memberikan arahan yang sangat sigap dan strategis dalam fokus penanganan pascabencana.