“Tim lapangan bekerja cermat, karena penanganan harus mempertimbangkan perubahan tanah dan aliran air yang dinamis. Mobilisasi alat dan metode kerja diarahkan agar hasilnya cepat, namun tetap andal menjaga konektivitas warga selama pemulihan,” ujarnya.
Ke depan, dukungan lapangan akan terus disesuaikan dengan kondisi di titik rawan, termasuk pembukaan akses pada badan jalan yang terdampak longsor seperti Tungel Baru, Tetumpun, Tangsaran, Sungai Natam, hingga Rikit Gaib.
Melalui kolaborasi tersebut, Kementerian PU dan Hutama Karya menegaskan komitmen menjaga konektivitas dan layanan dasar sebagai prasyarat pemulihan sosial-ekonomi masyarakat Aceh, sekaligus meminimalkan risiko bencana berulang di masa mendatang. (*)