Optimisme dan Kewaspadaan Ekonomi Tiongkok 2025,Tumbuh tapi Mepet

Selasa 20-01-2026,13:57 WIB
Reporter : Doan Widhiandono
Editor : Noor Arief Prasetyo

BACA JUGA:Sejarah Siomay atau Shao Mai di Tiongkok, Ragam Cita Rasa dari Guangzhou hingga Mongolia Dalam

BACA JUGA:Bergantung kepada AS untuk 'Kemerdekaan Taiwan' Pasti Akan Gagal: Arus Perdana Reunifikasi Tiongkok Tidak Terbendung

“Data aktivitas Desember menunjukkan pertumbuhan output memperoleh momentum di akhir tahun. Tetapi, itu sebagian besar didorong oleh ekspor yang tangguh,” kata Huang. Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi pada 2026 kemungkinan akan sedikit lebih slow dibanding 2025.

Pemerintah Tiongkok pun mencoba menyoroti sektor manufaktur. Indeks manajer pembelian (Purchasing Manager Index/PMI) manufaktur naik tipis ke level 50,1 pada Desember. Sedikit di atas ambang batas ekspansi. Itu adalah sinyal positif pertama sejak Maret. Namun, margin optimisme itu amat tipis.

Di sisi lain, sektor properti—yang selama bertahun-tahun menjadi simbol kekuatan ekonomi Tiongkok—belum menunjukkan pemulihan berarti. Meski suku bunga dipangkas dan pembatasan pembelian rumah dilonggarkan, krisis utang belum terurai.

Investasi aset tetap menyusut 3,8 persen sepanjang 2025, mencerminkan penyesuaian setelah puluhan tahun belanja besar-besaran di properti dan infrastruktur. Investasi realestat bahkan anjlok 17,2 persen, menandakan sektor perumahan masih lesu dan jauh dari kata stabil.


JAJARAN MOBIL yang akan diekspor disiapkan di Pelabuhan Yantai, 18 Januari 2026.-AFP-

Tekanan eksternal turut memperumit situasi. Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih pada Januari lalu memicu kembali perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut. Tarif balasan kembali menghantam arus perdagangan bilateral.

Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Trump sempat mencapai ’’gencatan senjata’’ sementara saat bertemu pada akhir Oktober 2025. Keduanya sepakat menunda sejumlah langkah paling menyakitkan, termasuk kenaikan tarif yang agresif. Namun, dampaknya tetap terasa.

Ekspor Tiongkok ke Amerika Serikat anjlok 20 persen sepanjang 2025. Anehnya, penurunan itu tidak terlalu memukul total ekspor. Permintaan dari kawasan lain justru menopang kinerja perdagangan.

Ekspor tetap menjadi titik terang di tengah langit ekonomi yang mendung. Surplus perdagangan Tiongkok melonjak ke rekor USD 1,2 triliun. Menurut pejabat Tiongkok, itu adalah level surplus perdagangan global tertinggi dalam sejarah mereka.

BACA JUGA:Purbaya Siap Sikat 40 Perusahaan Baja Tiongkok Tak Bayar Pajak

BACA JUGA:Inovasi Kapal Selam Fendouzhe Terus Dikembangkan, Tiongkok Berambisi Taklukkan Laut Terdalam

Pengiriman ke negara-negara ASEAN naik 13,4 persen secara tahunan. Ekspor ke Afrika bahkan melesat 25,8 persen. Ke Uni Eropa, ekspor naik 8,4 persen meski impor dari kawasan itu menurun.

Gambaran besar ekonomi Tiongkok pada 2025 pun menjadi jelas. Angka pertumbuhan masih berdiri, tetapi bertumpu berat pada ekspor. Sementara konsumsi domestik dan properti—dua pilar utama ekonomi jangka panjang—belum pulih. Lima persen tercapai, tetapi pertanyaannya kini bukan lagi soal target, melainkan soal ketahanan.

Meski demikian, ruang optimisme belum tertutup. Dengan ruang fiskal yang masih tersedia, basis industri yang tetap solid, serta jejaring ekspor yang kian terdiversifikasi, Tiongkok masih memiliki modal untuk menata ulang arah pertumbuhan.

Kategori :