HARIAN DISWAY - Menjelang datangnya Ramadan, suasana kampung-kampung di Surabaya mulai terasa berbeda.
Warga bersiap menyambut bulan suci melalui tradisi Megengan. Tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun.
Megengan biasanya digelar pada hari-hari terakhir bulan Syakban. Warga berkumpul di masjid, musala, atau rumah tetangga untuk melaksanakan doa bersama.
Doa-doa tersebut dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan. Baik kepada leluhur, permohonan ampunan, serta persiapan batin sebelum memasuki Ramadan.
BACA JUGA:Megengan, Tradisi Unik Sambut Ramadan, Jejak Ajaran Wali Songo
BACA JUGA:Jelang Ramadan, Kenali Tradisi Megengan di Malam Nisfu Syaban
Tradisi megengan yang ada di Indonesia adalah salah satu bentuk rasa syukur karena masih bisa dipertemukan kembali dengan Bulan Suci Ramadan.--freepik
Dalam tradisi itu, kue apem menjadi sajian yang tak pernah ketinggalan. Kue itu berbahan dasar tepung beras dan santan. Di sisi lain, memiliki makna filosofis yang kuat.
Kata “apem” diyakini berasal dari bahasa Arab afwun yang berarti ampunan. Karena itu, membagikan kue apem dalam Megengan dimaknai sebagai ajakan. Yakni agar semua orang saling memaafkan sebelum menjalani ibadah puasa.
Selain bernuansa religius, Megengan juga menjadi ruang sosial bagi warga. Tradisi itu mempertemukan tetangga, mempererat silaturahmi, dan memperkuat rasa kebersamaan. Diungkapkan melalui kebiasaan saling berbagi makanan.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, Megengan hadir sebagai pengingat. Bahwa menyambut Ramadan tidak hanya semata menahan lapar dan dahaga. Tetapi juga membersihkan hati. Sekaligus memperbaiki hubungan antar sesama.
BACA JUGA:Persiapkan Ramadan sejak Bulan Syakban, Malam Jumat Jadi Momentum Refleksi Ibadah
BACA JUGA:Jadwal Lengkap Puasa Sunnah Rajab dan Sya'ban Jelang Ramadan 2026, Catat Tanggalnya!
Di sejumlah wilayah, pelaksanaan Megengan kini dikemas lebih sederhana. Meski demikian, esensi tradisi itu tetap terjaga: doa, kebersamaan, dan semangat berbagi.
Menariknya, generasi muda mulai kembali dilibatkan dalam tradisi Megengan. Itu dilakukan agar nilai-nilai budaya tersebut tidak tergerus zaman. Keterlibatan tersebut juga terlihat dari cara tradisi itu diabadikan dan dibagikan.