Sekarang elite partai politik sudah bilang ke Jokowi: ”Tidak semudah itu Ferguso”. Situasi sudah berbeda.
PAN, misalnya, langsung memberikan respons akan mencalonkan: Prabowo-Zulhas. Menempatkan ketum partainya sebagai cawapres.
PKB juga sudah merespons, yakni memperjuangkan Prabowo dua periode. Soal wakil tak pernah disenggol. Kalau boleh ditebak, capres yang bakal diusung PKB tak jauh dari Muhaimin, ketumnya itu.
Demokrat, walaupun tak vulgar mendorong AHY, gerakan partai tersebut terbaca ke arah itu. Suara-suara yang selalu membandingkan AHY dan Gibran selalu muncul.
Prabowo juga tidak terganggu dengan AHY. Bahkan, terkesan memberikan peluang. Misalnya, ia selalu memuji putra sulung SBY itu. Dipuji kinerjanya dan menyebutnya sebagai keturunan pejuang. Di suatu kesempatan, ia menyebut AHY dan Gibran akan bersaing di masa depan. Diucapkan di depan kedua anak presiden itu.
Dan, kini rumor yang terus bergulir menunjukkan pecahnya orang di sekitar Prabowo. Ada sayap Sjafrie Sjamsoeddin, orang paling dipercaya Prabowo di kabinet. Kubu itu jauh dengan Jokowi, tetapi dikenal dekat dengan SBY. Sementara itu, sayap Sufmi Dasco Ahmad, tangan kanan Prabowo di parlemen, dikenal dekat dengan Jokowi.
Memilih Gibran juga bukan hal mudah bagi Prabowo. Gibran bakal terus tersandera dengan stigma ”pelanggaran konstitusi”. Imbas putusan MK yang kontroversial, meloloskannya menjadi wapres. Belum lagi, tuduhan tidak lulus SMA.
Siapa yang terpilih menjadi wakil Prabowo akan ditentukan Prabowo juga. Siapa pun pendampingnya, peluang menang bersama Prabowo tetap paling besar. Efek petahana.
Di sinilah kita lihat, apakah Jokowi masih sakti? Yang membuat Prabowo menerima kembali ”Paket Solo”.
Pilihan Prabowo juga bisa menunjukkan, apakah ia sudah lepas dari bayang-bayang orang Solo itu. (*)