Sebab, seperti diketahui setiap pelancong yang pernah diinterogasi petugas bea cukai imigrasi, seseorang bisa merasa cemas tanpa harus bersalah. Ia tidak bohong, tapi cemas. Dan, kecemasan dideteksi poligraf sebagai kebohongan.
Porter: ”Kami telah mengembangkan pendekatan baru untuk mendeteksi pembohong berdasar teknik wawancara dan manipulasi psikologis. Hasilnya baru saja dipublikasikan di Journal of Applied Research in Memory and Cognition.”
Teknik itu bagian dari generasi baru metode deteksi kebohongan berbasis kognitif yang makin banyak diteliti dan dikembangkan.
Pendekatan itu berhipotesis bahwa proses mental dan strategis yang diadopsi orang yang mengatakan kebenaran selama wawancara berbeda secara signifikan dari proses yang diadopsi para pembohong. Dengan menggunakan teknik-teknik tertentu, perbedaan itu dapat diperkuat dan dideteksi.
Salah satu pendekatan tersebut adalah teknik asymmetric information management (AIM) alias manajemen informasi asimetris.
Teknik itu dirancang untuk memberikan tersangka cara yang jelas untuk menunjukkan ketidakbersalahan atau kesalahan mereka kepada penyidik, dengan memberikan informasi terperinci.
Detail kecil adalah inti dari investigasi forensik dan dapat memberi penyidik fakta untuk diperiksa dan saksi untuk diinterogasi. Yang penting, pernyataan yang lebih panjang dan lebih terperinci, biasanya mengandung lebih banyak petunjuk tentang penipuan daripada pernyataan singkat.
Pada dasarnya, metode AIM melibatkan pemberian informasi kepada tersangka tentang fakta-fakta. Secara khusus, pewawancara menjelaskan kepada orang yang diwawancarai bahwa jika mereka memberikan pernyataan yang lebih panjang dan lebih terperinci tentang peristiwa kejahatan yang terjadi, penyidik akan lebih mampu mendeteksi apakah mereka mengatakan yang sebenarnya atau berbohong.
Bagi orang yang mengatakan yang sebenarnya, itu adalah kabar baik. Ia senang menceritakan terperinci. Pun, ceritanya logis. Serta konsisten, meski ditanya berulang-ulang.
Bagi para pembohong, cara itu bukanlah kabar baik. Ia bakal gelisah karena menyiapkan cerita bohong. Atau, akan mengatakan cerita bohong yang sudah ia rancang sebelumnya.
Riset menunjukkan bahwa ketika tersangka diberi instruksi itu, mereka berperilaku berbeda antara pembohong dan yang jujur. Bergantung pada apakah mereka mengatakan yang sebenarnya atau tidak.
Orang yang mengatakan yang sebenarnya biasanya berusaha untuk menunjukkan ketidakbersalahan mereka dan umumnya memberikan informasi yang lebih terperinci sebagai tanggapan terhadap instruksi tersebut.
Sebaliknya, para pembohong ingin menyembunyikan kesalahan mereka. Itu berarti, mereka lebih cenderung secara strategis menahan informasi sebagai respons terhadap instruksi AIM.
Asumsi penjahat (yang sepenuhnya benar) adalah jika ia memberikan lebih banyak informasi akan memudahkan penyelidik untuk mendeteksi kebohongan mereka. Jadi, sebagai gantinya, mereka memberikan informasi yang lebih sedikit.
Asimetri dalam respons dari pembohong dan orang jujur (dari sinilah teknik AIM mendapatkan namanya) menunjukkan dua kesimpulan.
Saat menggunakan instruksi AIM, jika penyelidik dihadapkan dengan calon tersangka yang memberikan banyak informasi rinci, sangat mungkin mereka mengatakan yang sebenarnya. Sebaliknya, jika calon tersangka berbohong, penyelidik biasanya akan dihadapkan dengan pernyataan yang lebih pendek. Cerita singkat. Bahkan, untuk penjahat bodoh, ceritanya tidak logis.