Paradoks Indonesia Emas: Efisiensi APBN vs Hak Akses Masyarakat ke Literasi

Jumat 27-03-2026,21:37 WIB
Oleh: Imam Kusnin Ahmad*

Di era digital saat ini, perpustakaan juga bertransformasi menjadi pusat literasi digital, membantu masyarakat memilah informasi yang akurat dari lautan konten yang sering kali tidak tepercaya.

Pemangkasan jam operasional dan layanan Perpusnas berarti membatasi kesempatan bagi jutaan orang untuk mengakses sumber daya yang mereka butuhkan. 

BACA JUGA:Menuju Indonesia Emas 2045 dengan Transformasi Dialektis

BACA JUGA:Ekonomi Hijau, Sebuah Harapan Indonesia Emas 2045

Anak-anak dari keluarga kurang mampu yang tidak memiliki akses ke buku atau perangkat elektronik di rumah akan kehilangan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan potensi diri mereka. 

Mahasiswa yang membutuhkan referensi penelitian akan menghadapi kesulitan lebih besar dalam menyelesaikan tugas akademiknya. Bahkan, bagi pekerja yang ingin meningkatkan keterampilan atau berwirausaha, perpustakaan acap kali menjadi tempat untuk mencari inspirasi dan informasi penting.

Paradoks yang paling mencolok adalah program-program prioritas yang menjadi tujuan dari efisiensi itu justru akan sulit mencapai hasil maksimal jika dukungan dari sektor literasi dan pengetahuan tidak kuat. 

Misalnya, program MBKM akan menghasilkan lulusan yang berkualitas jika mahasiswa memiliki kemampuan berpikir kritis, analitis, dan mampu mengakses serta mengolah informasi dengan baik –kemampuan yang salah satunya dapat diasah melalui akses ke perpustakaan. 

BACA JUGA:2045 Menuju Indonesia Emas, Peluang atau Ancaman?

BACA JUGA:Bonus Demografi di Era Indonesia Emas 2045, Berkah atau Musibah?

Begitu juga dengan pembangunan daerah tertinggal; masyarakat di daerah tersebut akan sulit untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan jika mereka tidak memiliki literasi yang memadai untuk memahami program-program pemerintah dan mengambil keputusan yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Selain itu, pengurangan anggaran untuk Perpusnas juga bisa dianggap sebagai kurangnya pemahaman terhadap pentingnya investasi dalam modal manusia secara berkelanjutan. 

Indonesia emas tidak akan terwujud hanya dengan pertumbuhan ekonomi atau pembangunan infrastruktur semata. Ia membutuhkan generasi muda yang cerdas, kreatif, dan memiliki integritas –yang semuanya tidak bisa tercapai tanpa dukungan sistem pendidikan dan literasi yang kuat.

MOTIVASI

Meski realitas yang dihadapi Perpusnas saat ini cukup memprihatinkan, kita tidak boleh menyerah pada kondisi itu. 

Paradoks yang muncul harus menjadi pemicu bagi kita semua –baik pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha– untuk berpikir lebih kritis tentang bagaimana kita mengalokasikan sumber daya dan memprioritaskan pembangunan bangsa. 

Kategori :