Upaya diplomasi mulai dilakukan. Beberapa negara mencoba menjadi mediator antara pihak yang bertikai, termasuk Tiongkok hingga Rusia.
Pembicaraan awal dilakukan melalui jalur tidak langsung. Tujuannya adalah menurunkan eskalasi konflik.
Namun, perbedaan kepentingan membuat negosiasi berjalan sulit. Masing-masing pihak memiliki tuntutan yang berbeda.
BACA JUGA:Menakar Iran Pasca-Ali Khamenei
BACA JUGA:Kematian Ayatollah Ali Khamenei Justru Bikin Legitimasi Rezim Menguat, Iran Masuk Fase Perang Atrisi
Meski demikian, upaya diplomasi tetap dianggap penting untuk mencegah konflik semakin meluas.
Harapan akan gencatan senjata masih terbuka, meskipun belum ada kesepakatan konkret.
10. Risiko Perang Lebih Besar Masih Terbuka
Memasuki bulan pertama, risiko eskalasi lebih besar masih sangat tinggi. Banyak pihak yang berpotensi terlibat lebih jauh.
Jika perang terus berlanjut, kemungkinan perang besar di kawasan tidak dapat dihindari. Dampaknya bisa sangat luas.
Keterlibatan banyak aktor membuat situasi semakin sulit dikendalikan. Konflik bisa berubah arah dengan cepat.
Setelah perang panjang, mulai menghadapi Hamas, Hizbullah hingga serangan Iran, IDF ambang kehancuran dan Kepada Staf ungkap jika pihaknya kekurangan 15.000 personel.-dok disway-
Karena itu, dunia internasional terus mendorong upaya damai untuk mencegah situasi semakin memburuk.
Konflik Belum Berakhir
Setelah satu bulan, perang AS–Israel vs Iran masih jauh dari kata selesai. Intensitas konflik tetap tinggi dan belum menunjukkan tanda mereda.
Dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga secara global. Stabilitas ekonomi, energi, dan keamanan dunia ikut terpengaruh.
Ke depan, arah konflik akan sangat bergantung pada keputusan politik dan diplomasi para pihak yang terlibat.
Jika tidak segera diredam, perang ini berpotensi menjadi salah satu konflik terbesar dalam sejarah modern. (*)