Abu Dhabi Ganjalan Baru Perdamaian di Timur Tengah

Senin 11-05-2026,05:24 WIB
Reporter : Tofan Mahdi*
Editor : Yusuf Ridho

Oman sempat menjadi mediator dalam perundingan damai antara Iran dan AS meski kemudian gagal akibat serangan rudal AS dan Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026. Gagal di Muscat, perundingan kemudian diupayakan di Islamabad.

Pecah Kongsi OPEC

Di antara negara-negara Teluk, hanya UEA yang bersikap keras dan mengancam serangan Iran ke wilayah mereka, meskipun yang disasar Iran adalah aset-aset militer AS. Sikap berbeda ditunjukkan Qatar, Bahrain, bahkan Arab Saudi yang cenderung permisif dengan serangan Iran. 

BACA JUGA:Tofan Mahdi: Pemerintah Indonesia Harus Memihak Iran dalam Perang di Timur Tengah

BACA JUGA:Impor Minyak Timur Tengah Terhenti! RI Putar Haluan, BBM Terancam Dibatasi

Sikap yang ditunjukkan Riyadh sangat mengecewakan Donald Trump lantaran Arab Saudi sebagai produsen dan pengekspor minyak mentah di Teluk adalah mitra dagang utama AS. 

Riyadh seperti membiarkan AS dan Israel mengatasi sendiri petualangan militer dan diplomatik mereka dengan Iran. Bahkan, Saudi tidak menunjukkan sinyal ketertarikan sedikit pun untuk bergabung dalam Abraham Accords. 

Tekanan kepada Iran dari AS, Israel, dan UEA mengancam proses perundingan yang sedang diupayakan. Meski sporadis, Iran dan AS masih saling melakukan serangan rudal secara terbatas di Selat Hormuz. 

Iran juga menyerang pangkalan minyak UEA di Fujairah. Di sisi lain, pada saat yang sama, Israel masih menyerang sejumlah wilayah di Lebanon.

Ketegangan geopolitik makin meningkat di Timur Tengah setelah secara mendadak UEA menyatakan keluar dari anggota OPEC. 

Keluarnya  UEA dari organisasi kartel produsen minyak dari 12 negara di wilayah Timur Tengah, Afrika, dan Venezuela itu memunculkan ketegangan baru antara UEA dan Arab Saudi. 

Sejumlah analis geopolitik global menilai, keluarnya UEA dari OPEC ditengarai karena alasan politik dan ekonomi. Alasan politik karena kekecewaan UEA kepada negara-negara Teluk, khususnya Arab Saudi, yang setengah hati mendukung AS dan Israel melawan Iran. Alasan ekonominya adalah UEA ingin  mengoptimalkan produksi minyak mereka yang selama ini diatur melalui kuota oleh OPEC.

Keluarnya UEA dari OPEC menguntungkan AS pada masa-masa perang seperti sekarang. Sebab, meningkatnya produksi minyak mentah UEA akan menekan harga minyak dan tekanan terhadap perekonomian AS akan berkurang. 

Namun, dampak keluarnya UEA dari OPEC diperkirakan baru terasa dalam satu atau dua tahun mendatang. Selama lalu lintas di Selat Hormuz masih diblokade, harga minyak akan sulit kembali ke posisi di bawah USD100 per barel, apalagi kembali kepada harga seperti saat sebelum perang, yaitu USD70–80 per barel.

Akhir Perang

Dengan berbagai dinamika yang terjadi saat ini, bagaimana skenario yang paling mungkin terjadi pada konflik geopolitik di Timur Tengah saat ini? 

Kategori :