AI sebagai Daya Perang

Sabtu 23-05-2026,11:26 WIB
Reporter : Efatha Filomeno Borromeu Duarte*
Editor : Yusuf Ridho

Di saat yang sama, di forum dark web, perangkat lunak AI militer asyik dilelang para peretas setelah sistem GitHub kebobolan.

Lalu, NVIDIA? Malam itu sibuk melaporkan pendapatan kuartalannya yang selangit. Sambil tetap duduk manis sebagai satu dari delapan vendor tempur Pentagon.

Hasilnya Cuma 0,29 Persen

Lalu, ada angka yang bikin kita nyengir lebar.

Biro Riset Ekonomi Nasional merilis laporan: setelah tiga tahun heboh adopsi AI, ternyata produktivitas perusahaan cuma naik 0,29 persen.

Nol koma dua sembilan persen! Miliaran dolar dibakar.

Ribuan pusat data dibangun. Jutaan chip dirakit. Hasil produktivitas aslinya? Ya, cuma segitu.

Tapi, Pentagon jelas tidak peduli. Mereka bukan perusahaan yang mengejar margin produktivitas. Mereka itu tentara. Yang dikejar daya tempur.

Yang Tidak Bisa Dinyalakan Sendiri

Jadi, Saudara, seluruh keributan ini pada akhirnya adalah cerita tentang tombol mati. AI canggih yang tidak bisa Anda nyalakan listriknya sendiri.

Tidak bisa Anda gali bahan bakunya sendiri. Tidak bisa Anda bungkus chip-nya sendiri.

Tidak bisa Anda verifikasi, asuransikan, dan kendalikan sendiri. Itu semua pada dasarnya bukan milik Anda.

Itu hanya pinjam otak.

Hak pakainya bisa dicabut kapan saja. Revocable decision loop.

Pasar saham hari ini masih asyik menghitung nilai infrastruktur. Lupa menghitung nilai kedaulatan.

Padahal, 2027 sudah di depan mata.

Kategori :