Persoalannya adalah saat ini tantangannya berbeda dengan yang dulu. Yang sedang kita hadapi saat ini adalah kesenjangan antara kecepatan perubahan dunia dan kecepatan perubahan kampus.
BACA JUGA:Kampus Berdampak Berbasis Riset: Akselerasi Menuju Kemandirian Perti
BACA JUGA:UNUSA Kampus NU yang Inklusif
Perubahan teknologi berlangsung dalam hitungan bulan. Model bisnis berubah dalam hitungan tahun. Namun, di banyak tempat, pembaruan kurikulum, metode pembelajaran, bahkan cara mengevaluasi mahasiswa masih berjalan dengan ritme yang jauh lebih lambat.
Akibatnya, kampus sering berhasil menjawab kebutuhan masa lalu, tetapi belum sepenuhnya menjawab tantangan masa depan. Padahal, perguruan tinggi didirikan untuk mempersiapkan mereka dalam menghadapi dunia yang bahkan belum sepenuhnya kita kenal hari ini.
***Saya juga melihat cara pandang kita perlu dilakukan perubahan. Selama ini kita sering berbicara tentang link and match antara perguruan tinggi dan dunia industri. Konsep itu tetap penting dan memang tetap dibutuhkan. Namun, Indonesia 2045 membutuhkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar link and match. Yaitu, link, match, and create.
Artinya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, tetapi juga harus melahirkan generasi yang mampu menciptakan pekerjaan baru, membangun inovasi baru, dan melahirkan solusi baru.
BACA JUGA:Krisis Sunyi Kampus Swasta
BACA JUGA:Kampus Berdampak dan Tuntutan Mahasiswa Berprestasi
Kampus tidak boleh hanya menjadi ”pemasok tenaga kerja”. Tetapi, juga harus menjadi pabrik gagasan, laboratorium kepemimpinan, dan kawah candradimuka lahirnya para pemecah masalah bangsa.
Karena itu, menurut saya, setidaknya ada lima agenda besar yang perlu menjadi arah pembaruan pendidikan tinggi.
Pertama, menggeser orientasi dari transfer pengetahuan menuju pembentukan karakter pembelajar sepanjang hayat. Ilmu yang dipelajari hari ini mungkin akan berubah lima tahun lagi. Namun, kemampuan untuk terus belajar akan tetap menjadi bekal sepanjang hidup.
Kedua, memperkuat pembelajaran berbasis masalah nyata. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori. Mereka perlu dibiasakan menyelesaikan persoalan masyarakat, pemerintahan, industri, lingkungan, dan kemanusiaan.
Ketiga, membangun kolaborasi yang lebih erat dengan dunia usaha, pemerintah, komunitas, dan pusat-pusat inovasi. Kampus tidak boleh menjadi ”pulau” yang terpisah dari dinamika masyarakat.
Keempat, menumbuhkan budaya riset yang menghasilkan nilai tambah, tidak sekadar memenuhi kewajiban akademik, apalagi kewajiban administrasi, untuk mengejar tunjangan. Riset harus menjadi jalan lahirnya inovasi yang memberikan manfaat nyata.
Kelima, dan ini yang paling penting, menanamkan integritas, empati, dan tanggung jawab sosial sebagai inti pendidikan tinggi. Sebab, kecerdasan tanpa karakter dapat melahirkan profesional yang hebat, tetapi belum tentu melahirkan pemimpin yang dipercaya.
***