SETIAP KALI musim wisuda tiba, kampus selalu menghadirkan suasana yang mengharukan. Rektor menyampaikan pidato penuh harapan. Para dosen tersenyum bangga saat melihat mahasiswanya menyelesaikan perjuangan bertahun-tahun.
Orang tua memeluk anak-anaknya dengan mata yang berkaca-kaca. Di ruang itu, tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat seorang anak akhirnya menyandang gelar sarjana.
Namun, setelah toga dilepas dan ijazah dimasukkan ke map, ada pertanyaan yang mulai muncul: apakah pendidikan yang telah ditempuh benar-benar telah mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang sedang berubah sangat cepat?
Pertanyaan itu menjadi makin relevan ketika kita membaca data hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026 yang menunjukkan bahwa sekitar 1.033.182 lulusan diploma 4 hingga doktor masih menganggur. Itu sekitar 14,31 persen dari total penganggur nasional. Fenomena tersebut muncul di tengah disrupsi teknologi, otomatisasi, dan perubahan struktur pasar kerja.
BACA JUGA:Senja Kala Aktivisme Kampus
BACA JUGA:Universitas Mengajar Kepemimpinan, tetapi ’Kampus Kehidupan’ yang Mencetak Pemimpin
Bagi saya, angka itu bukan hanya persoalan ketenagakerjaan, melainkan juga cermin yang sedang dipasang di depan perguruan tinggi Indonesia. Untuk becermin. Bukan untuk mencari siapa yang salah. Tetapi untuk menemukan solusi: apa yang harus kita perbaiki bersama?
***Sudah terlalu lama keberhasilan perguruan tinggi sering hanya diukur dengan ukuran angka-angka administratif. Misalnya, berapa banyak mahasiswa baru yang diterima, berapa persen yang lulus tepat waktu, dan berapa program studi yang terakreditasi unggul.
Sudah waktunya kita juga perlu mengukur keberhasilan perguruan tinggi dengan ukuran yang jauh lebih mendasar. Yaitu, apakah lulusan kita mampu memberikan makna bagi zamannya?
Itulah pertanyaan yang menurut saya harus menjadi pusat refleksi pendidikan tinggi menjelang Indonesia Emas 2045.
BACA JUGA:Perguruan Tinggi Kelola MBG: Kampus SPPG, Inovasi atau Duplikasi?
BACA JUGA:Pasar Menentukan Kampus?
Yakni, masa ketika dunia tidak lagi hanya membutuhkan orang yang memiliki ijazah. Tetapi, juga membutuhkan manusia yang mampu belajar kembali ketika pengetahuan berubah, mampu bekerja sama ketika persoalan makin kompleks, dan mampu menciptakan solusi ketika teknologi mengubah hampir seluruh cara kita bekerja.
Apalagi, dari berbagai kajian juga menunjukkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi digital akan mengubah banyak jenis pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan di masa depan.
***Menurut saya, persoalan utama perguruan tinggi saat ini bukan karena kekurangan kecerdasan. Justru saya melihat mahasiswa Indonesia sekarang tidak kalah pintar dengan mahasiswa dulu. Dosen-dosen kita saat ini juga memiliki dedikasi yang luar biasa.