Identitas keislaman yang dibangun Prabowo tidak bertransformasi menjadi politik identitas yang tajam, tetapi manifestasi dari kepemimpinan yang ramah, mengayomi, dan mengakomodasi kepentingan organisasi keagamaan besar.
Sebagaimana yang dicontohkan oleh para pendahulunya dari Soekarno hingga Jokowi, legitimasi keislaman adalah modal politik yang selalu relevan untuk menjaga keseimbangan kekuasaan di Indonesia.
Ketika kontestasi politik makin tajam, validasi kesalehan dan legitimasi keislaman menjadi krusial.
Buku Islam ala Prabowo bisa menjadi instrumen bagi Prabowo untuk mendapatkan legitimasi dari kalangan Islam untuk kepentingan politik elektoral. Namun, buku itu bisa juga menjadi bumerang bagi Prabowo karena publik bisa meminta pembuktian konkret keislaman ritual Prabowo. (*)