BACA JUGA:Presiden Tiongkok Xi Jinping Dorong BRICS Ambil Peran dalam Upaya Perdamaian di Timur Tengah
BACA JUGA:Prabowo di KTT BRICS: Perdagangan dan Mata Uang Jangan Jadi Senjata
Houthi Mengubah Peta
September ini Houthi kembali membuat dunia melihat peta.
Gerakan yang bersekutu erat dengan Iran itu melakukan ofensif cepat di pesisir Yaman dan mencapai kawasan strategis Bab el-Mandeb. Dalam beberapa hari, posisi pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi runtuh di sejumlah titik. Reuters bahkan menggambarkannya sebagai pukulan serius terhadap perhitungan Saudi dan sekaligus keuntungan strategis bagi Iran.
Namun, yang menarik bukan hanya siapa merebut wilayah.
Lihat siapa berbicara dengan siapa!
Houthi dekat dengan Iran.
Saudi mempunyai hubungan keamanan panjang dengan Amerika Serikat (AS).
Mesir berkepentingan terhadap Laut Merah.
Oman menjadi mediator.
UEA punya kepentingannya sendiri.
Bahkan, setelah ofensif Houthi itu, pejabat AS dilaporkan masih bertemu perwakilan Houthi di Muskat melalui fasilitasi Oman. Washington tidak otomatis memilih perang langsung.
Peta kawan dan lawan ternyata tidak sesederhana warna merah dan biru.
Kadang musuh tetap diajak bicara.
Kadang sekutu pertahanan tidak otomatis ikut berperang.