Sistem tersebut dapat membantu mengolah pertanyaan pelanggan, memperbarui informasi penjualan, hingga menyiapkan tindak lanjut berdasarkan data yang tersedia.
Meski demikian, keputusan strategis dan tindakan berisiko tinggi tetap membutuhkan pengawasan manusia.
BACA JUGA:Sinergi Pemerintah dan Dunia Usaha Dukung Bisnis Baba Rafi Lampaui Eksistensi Dua Dekade
David menilai AI seharusnya menjadi bagian dari sistem kerja perusahaan. Bukan sekadar perangkat tambahan.
“AI akan memberikan nilai yang lebih besar ketika terhubung dengan data, proses, dan tujuan bisnis perusahaan," ungkapnya.
"Maka, kita perlu mengetahui pekerjaan apa yang ingin diperbaiki, bagaimana keberhasilannya diukur, dan di mana manusia harus tetap memegang kendali,” tambahnya.
Ia menyarankan perusahaan mengadopsi AI secara bertahap. Yakni dengan mengidentifikasi pekerjaan berulang, titik yang sering menimbulkan kesalahan, serta proses yang paling membutuhkan perbaikan sebelum menentukan teknologi yang digunakan.
BACA JUGA:BNI Luncurkan BNIdirect Bisnis dan Wondr Merchant untuk Perkuat Digitalisasi Usaha Pelaku Bisnis
BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Owner Bisnis Roti dan Kopi (Ropi) Ahmad Reza: Zhi Xing He Yi
AI Membuka Peluang, tetapi Menuntut Adaptasi
Menurut David, optimisme terhadap AI harus disertai kesadaran terhadap dampaknya bagi dunia kerja.
Sebagian pekerjaan rutin berpotensi berkurang. Sebagian lainnya berubah. Sementara kebutuhan terhadap keterampilan baru terus berkembang.
Ilustrasi pebisnis muda yang memanfaatkan platform otomatisasi bisnis berbasis komputasi awan--Mekari
AI membuka peluang bagi perusahaan untuk meningkatkan analisis bisnis, pelayanan pelanggan, dan pengelolaan informasi.
Tanpa harus membangun seluruh kapasitas tersebut dari awal. Teknologi juga dapat membuat kemampuan yang sebelumnya mahal menjadi lebih mudah dijangkau. Termasuk bagi usaha kecil dan menengah.
BACA JUGA:Memahami Peran Keluarga dalam Bisnis lewat Deep Talk: Pasangan adalah Support System Terbaik