BACA JUGA:Sinopsis Drakor OK! Let's Get Divorced, Kisah Realistis di Balik Bisnis Gaun Pengantin
“Persiapan menghadapi AI sebaiknya dimulai dengan memetakan proses bisnis. Pahami pekerjaan mana yang berulang, bagian mana yang sering menimbulkan kesalahan, dan keputusan mana yang membutuhkan penilaian manusia," ungkapnya.
Setelah semua itu dilakukan, teknologi harus diterapkan secara bertahap. Dengan ukuran keberhasilan yang jelas.
Bagi tenaga kerja, kemampuan memahami masalah, mengevaluasi hasil AI, berkomunikasi, dan menguasai bidang pekerjaan akan semakin penting.
Perusahaan juga perlu menyediakan pelatihan dan membuka kesempatan bagi karyawan untuk beradaptasi dengan perubahan peran.
BACA JUGA:Menepis Mitos Generasi Ketiga Penghancur Bisnis Keluarga ala Hadi Cahyadi
BACA JUGA:Family Constitution, Kunci Bisnis Keluarga Bertahan Lintas Generasi
David berharap pemanfaatan AI tidak hanya meningkatkan produktivitas. Tetapi juga memperluas kemampuan manusia yang bekerja bersama teknologi.
Perusahaan pun perlu mengevaluasi kembali nilai yang ditawarkan kepada pelanggan agar tetap relevan.
Data Menjadi Fondasi Strategi Pemasaran
Dalam bidang pemasaran, David menekankan pentingnya menjadikan data sebagai dasar pengambilan keputusan.
Strategi pemasaran yang efektif tidak cukup dinilai dari banyaknya tayangan, popularitas kampanye, atau viralitas di media sosial.
BACA JUGA:Jember Bangun Inkubator Agribisnis, Targetkan Jadi Percontohan Nasional
BACA JUGA:Petra Drone Academy Pamerkan Teknologi Drone, Bisa Survei Puluhan Ribu Hektar Hingga Dukung Bisnis
Sebagai business analyst dan konsultan marketing intelligence, ia memandang pemasaran sebagai proses memahami hubungan antara pelanggan, produk, perilaku pasar, dan hasil bisnis.
Menurutnya, viralitas dapat membuka perhatian. Tetapi keberlanjutan bisnis membutuhkan pengalaman pelanggan dan nilai produk yang konsisten.
"Kampanye yang ramai perlu diperiksa apakah benar mendatangkan pelanggan yang sesuai dan memberikan hasil yang sehat bagi usaha,” jelasnya.