Pilih Partner Main dan Ansamble Akting

Pilih Partner Main dan Ansamble Akting

Aktor Rukman Rusadi menawarkan istilah yang lebih pas. Terkait ”lawan main” dan adu akting”. Sebab Rukman menilai, dua istilah itu mengandung ’rasa bahasa’ yang enggak pas. ”Entah mulai kapan dan bagaimana asal muasalnya istilah ini digunakan dalam khasanah dunia seni peran di negeri ini. Dua istilah ini layaknya merepresentasikan devide et impera, politik adu domba,” katanya, dalam Instagram-nya.

Rukman bahkan merasa terintimidasi saat mendengar istilah ini diucapkan. Baik saat menjadi pemeran atau saat melatih aktor. Kata lawan dan adu dengan mudah menciptakan jarak psikologis dan menempatkan orang lain (aktor) sebagai ’musuh’ yang sepatutnya dikalahkan. ”Meskipun lidah saya juga sering nyeplos karena telah sering terpaksa menggunakannya sebelumnya dan segera menyesal setelahnya,” ungkapnya.

Banyak alasan mengapa Rukman mengajak untuk mengubahnya demi mengembalikan makna bahasa yang sesuai. ”Sebagai pemeran, dua kata ini menempatkan aktor lain untuk ’berhati-hati’ pada kita, bersiasat, berstrategi, mencari kelemahan, mengungguli dan mengalahkannya, mempermalukannya atau merendahkannya,” jelasnya.

Sementara sebagai pelatih, dua kata ini seolah menempatkan kita seperti wasit pertandingan tinju atau lebih buruk seperti botoh adu celeng. Jika diucapkan pada mereka para aktor, dengan mudah dua kata ini langsung menciptakan jarak psikologis yang dingin.

Faktanya, akting harus dibangun bersama-sama, tidak berlawanan dan tidak beradu. Akting harus berpadu, saling, memberi, menguatkan, mengisi, membangun. Jika aktor berpikir untuk mengalahkan, maka efeknya sama dengan bunuh diri.

Aktor lain jatuh, maka kita juga jatuh, aktor lain stuck maka kita stuck. Sedangkan akting dibangun atas dasar aksi dan reaksi yang benar dan proporsional. Jika satu pemain beraksi buruk maka aktor lain akan bereaksi buruk.

Rukman lantas mengambil analogi tentang orkestrasi yang hanya akan terbangun dengan baik jika tiap pemain berada di tempat dan porsi yang tepat. Bayangkan jika dalam sebuah orkestra masing-masing musisi berusaha menjatuhkan musisi lain. Begitu juga dalam akting, ansamble harus dijalin dengan porsi karakter dan aksi karakter yang tepat dan benar.

”Kita aktor tidak berlawanan, kita tidak adu skill dan kepandaian. Kita aktor menciptakan harmoni permainan. Kita partner dan kita ansambel,” tegas aktor berusia 49 tahun itu.

Sementara itu Rukman yang tengah membintangi film Penyalin Cahaya mendorong banyak orang mengapresisasinya. Rukman memuji bahwa film besutan Wregas Bhanuteja itu adalah film yang memiliki napas independen. ”Jika berhitung dalam setahun tentu tidak banyak film yang mengusung ideologi tanpa intervensi ’kekuasaan’ apa pun jenis kekuasaannya. Bahkan dalam 5-10 tahun jari-jari kita masih cukup untuk menyebutnya,” ujarnya.

Amatan Ruakman itu disimpulkan setelah ia sempat tertohok setelah ngobrol dengan seorang teman sineas Amerika Serikat. Si teman ini bilang bahwa ada perbedaan signifikan dalam memahami film yang digolongkan sebagai independen antara di negaranya dan di Indonesia.

Film indie/independen di AS dimaknai sebagai film yang dalam produksinya tidak diintervensi oleh pihak-pihak yang akan mengganggu ideologi dalam film. Bahkan mereka bisa menolak dana-dana besar yang berpotensi akan membelokkan arah ideologi. Independen dimaknai sebuah kemerdekaan berpikir dan berekspresi melalui film dengan visi nilai-nilai tujuan tanpa kompromi.

”Di sini, dalam praktiknya film independen sebagian baru dimaknai sebagai ’jembatan’ menuju industri, membuat film dengan semampunya atas biaya sendiri atau patungan. Setelahnya bisa kita lacak jejak sineasnya menuju industri. Bukan ideologi film yang merdeka bersuara dan berekspresi,” terangnya.

”Ini sebagian… yang saya catat dengan pensil saya yang tumpul, barangkali juga ada yang sungguh-sungguh ideal disebut independen, mari kita cermati bersama. Atau barangkali juga tidak penting catatan saya tadi dan tidak penting penggolongan arah sebuah film. Jika ada film-film bertujuan memperbaiki ’kualitas’ negeri ini saya sudah turut bahagia,” paparnya.

"Dalam film ini Wregas membawa sebuah ideologi yang dengan merdeka diterjemahkan dalam filmnya. Film lain seperti Yuni karya Kamila Andini juga patut kita cermati sebagai film yang mengekspresikan kemerdekaan berpikir dan menyuarakan ’nasib’ yang nyaris ditenggelamkan oleh kekonyolan kekuasaan yang berpihak pada golongan-golongan. Semoga banyak lagi film-film seperti ini,” kata Rukman dalam teks unggahannya di Instagram. (Heti Palestina Yunani)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: