Merdeka Belajar, Proses Asah Pisau Dari Sisi Tajamnya

Merdeka Belajar, Proses Asah Pisau Dari Sisi Tajamnya

DUA tahun sudah Mendikbudristek Nadiem Makarim mengajak sekolah-sekolah untuk menerapkan konsep merdeka belajar. Merdeka Belajar adalah sebuah konsep belajar yang memerdekan dan memandirikan. Ini merupakan filosofi perubahan metode pembelajaran. Namun sayangnya, di tingkat implementasi masih terjadi kegaduhan.

Mengapa memilih Merdeka Belajar? Sebab di dalam Merdeka Belajar, sekolah bisa memilih proses pembelajaran yang tepat yang  akan dilakukan dalam mendidik dan mengajar siswa. Konsep itu sekaligus menjadi kritik terhadap proses pembelajaran yang kurang memanusiakan peserta didik.

Betapa di rezim ujian nasional setiap anak diperlakukan harus bisa semuanya sebagaimana para gurunya. Keberhasilan setiap anak ditentukan oleh deret angka yang disebut dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan oleh sekolah dan guru. Sehingga anak kehilangan jati dirinya dalam belajar. Anak disebut berhasil kalua bisa memenuhi apa yang diinginkan oleh gurunya.

Belajar jadi kehilangan rohnya. Roh belajar adalah kebutuhan anak. Bukan kebutuhan sekolah apalagi kebutuhan guru. Tugas sekolah dan guru adalah melayani dan mendampingi anak agar potensinya bisa tumbuh dan berkembang secara baik sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.

Ki Hajar Dewantara dan Merdeka Belajar

Tidak dapat dimungkiri bahwa konsep merdeka belajar merupakan konsep belajar yang dilakukan oleh Ki Hajar Dewantara dengan Pendidikan Taman Siswanya. Dalam beberapa pernyataan yang didokumentasikan dalam buku Ki Hajar Dewantara, Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan dan Sikap Merdeka, Ki Hajar Dewantara menyatakan, ’’Untuk mendapatkan sistem pengajaran yang akan berfaedah bagi penghidupan bersama, haruslah sistem itu disesuaikan dengan hidup dan penghidupan rakyat. Oleh karena itu wajiblah kita menyelidiki segala kekurangan dan kekecewaan dalam hidup kita berhubung dengan sifatnya masyarakat seperti yang kita kehendaki.’’

’’Pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidupnya lahir. Sedang merdekanya hidup batin itu terdapat dari pendidikan.’’

’’Manusia merdeka yaitu manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.’’

Dengan demikian bisa dipahami bahwa konsepsi merdeka belajar dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah proses belajar yang melibatkan partisipasi warga belajar. Partisipasi itu berhubungan dengan kepuasan belajar yang dipilih. Sehingga, potensi yang dimiliki bisa ditumbuhkembangkan dengan baik yang pada akhirnya akan memunculkan kepercayaan diri dan kemandirian dalam belajar serta tidak tergantung kepada orang lain.

Konsep merdeka belajar akan membangun kesadaran dan kemandirian peserta didik untuk memilih cara belajar yang terbaik menurutnya.

Ki Hajar Dewantara tidak hanya menekankan pada kemandirian memilih cara belajar, tapi juga menekankan pada pentingnya memahami keberagaman kompetensi yang dimiliki oleh setiap anak. Sekolah sebagai sebuah taman, maka diharapkan setiap anak bisa mengembangkan ragam kompetensi yang dimilikinya.

Sejatinya itulah yang dirintis dan dikembangkan dalam kurikulum 2013 inilah yang dikenal dengan kompetensi inti. Namun sayangnya, sering masih kita jumpai dalam proses belajar, bahwa kurikulumnya boleh berganti-ganti, tapi penilaian pendidikan harus didasarkan pada nilai akhir ujian. Itu seperti iklan minuman botol. Bahwa apa pun makanannya, minumannya yang tetap itu…

Pendidikan Yang Memerdekakan

Berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada  proses belajar yang dialami siswa sebagai peserta didik.  Adapun proses belajar yang dilakukan seseorang, tergantung dari pandangannya tentang aktivitas belajar. Ada orang yang berpandangan bahwa belajar adalah suatu kegiatan menghafal fakta-fakta, sehingga seseorang sudah merasa puas bila mampu menghafal sejumlah fakta di luar kepala. Ada pula yang berpandangan bahwa belajar adalah suatu aktivitas latihan, sehingga untuk memperoleh kemajuan, seseorang melatih diri dengan berbagai aspek tingkah laku meskipun tidak memiliki pengetahuan mengenai arti, hakikat, dan tujuan keterampilan tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: